Museum Batiwakkal berdiri di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, sebagai pusat pelestarian sejarah penting bagi masyarakat setempat. Terletak di Kecamatan Gunung Tabur, bangunan museum ini dibangun pada tahun 1990 dan resmi dibuka untuk umum dua tahun berselang tepatnya pada 1992.
Gagasan pendirian museum tersebut diinisiasi oleh sejumlah keturunan kesultanan meliputi Aji Putri Nurhayati, Aji Putri Kannik Berau Sanipah, Aji Putri Nural Aini, serta Aji Iskandar Ayoeb. Bangunan ini pada dasarnya merupakan wujud renovasi ulang dari bentuk asli Keraton Gunung Tabur yang sempat mengalami kehancuran pada tahun 1945.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePenamaan Batiwakkal sendiri memiliki makna filosofis mendalam yaitu wujud jerih payah masyarakat dalam menjalankan tugas tanpa mengenal kata menyerah. Berbagai koleksi berharga dari keluarga kerajaan disimpan rapi di ruang utama untuk merawat ingatan kolektif tentang masa lampau.
Pengelolaan destinasi wisata sejarah ini berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau. Lokasi museum dapat dijangkau dalam kurun waktu sekitar 40 menit perjalanan dari pusat Kabupaten Berau.
Koleksi Bersejarah dan Jejak Kerajaan Berau
Pengunjung yang menyambangi Museum Batiwakkal dapat menyaksikan ragam koleksi bernilai historis tinggi mulai dari benda etnografika hingga keramologika. Beberapa koleksi unggulan mencakup Singgasana Kesultanan Gunung Tabur, Sulimbar, serta Walasugi Walagandi.
Area teras depan museum turut menghadirkan dua pos pertahanan yang dilengkapi meriam kuno sebagai saksi bisu perlawanan terhadap kolonial Belanda. Ruangan utama menyimpan pakaian kebesaran raja, senapan tua, perlengkapan rapat, hingga pernak-pernik berbahan keramik dan kayu.
Jejak sejarah wilayah ini berakar dari Kerajaan Berau masa lalu yang sempat menguasai kawasan luas hingga batas Brunei dan Kutai. Dinamika internal kerajaan pada akhirnya memecah wilayah kekuasaan menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung akibat sengketa suksesi takhta.
Wisatawan menghabiskan estimasi waktu sekitar satu hingga dua jam untuk mengeksplorasi seluruh sudut ruangan sambil menyelami kisah kejayaan masa lampau. Keberadaan museum ini sekaligus menjadi sarana edukasi efektif bagi generasi penerus bangsa.