Riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications mengusulkan cara revolusioner dalam merancang gedung pencakar langit dengan memanfaatkan massa menara itu sendiri guna meredam gerakan akibat angin kencang dan gempa.
Pendekatan inovatif tersebut menghasilkan pengurangan gerakan hingga 70 persen pada angin kencang serta memangkas beban struktural lebih dari 50 persen dibandingkan desain menara konvensional.
Studi ini menyebutkan bahwa konfigurasi baru tersebut mampu menurunkan perpindahan akibat gempa rata-rata sebesar 42 persen sekaligus membuka peluang pembangunan gedung bertingkat rendah karbon yang berkelanjutan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMiguel Martinez-Paneda selaku insinyur struktural utama di Arup sekaligus peneliti di Imperial College London menjelaskan bahwa sebagian besar bangunan supertinggi modern mengandalkan tuned mass dampers untuk mengontrol percepatan akibat angin.
Peluang Efisiensi Biaya dan Tantangan Implementasi
Martinez-Paneda menyatakan bahwa sistem konvensional memerlukan ruang dan biaya yang besar dengan efektivitas yang terbatas, sehingga pendekatan baru memanfaatkan lantai hunian gedung sebagai massa peredam.
Pengujian terowongan angin mencatat penurunan percepatan puncak mencapai 71 persen dan pengurangan momen guling dasar sebesar 50 persen tanpa harus menambah bobot atau kekakuan menara secara berlebihan.
Eamonn Connolly selaku direktur teknik di McHugh Construction menilai bahwa proposal tersebut merupakan kemajuan penting karena menggunakan massa struktur yang sudah ada alih-alih perangkat peredam khusus.
Kendati demikian, para ahli mengingatkan bahwa konsep menjanjikan ini masih memerlukan validasi teknis di dunia nyata, persetujuan kode bangunan, serta evaluasi pemeliharaan jangka panjang sebelum menjadi standar industri.