Setiap Jumat sore, ketika kebanyakan orang memilih pulang dan beristirahat setelah seharian bekerja, seorang polisi berseragam cokelat justru melangkah masuk ke sebuah panti asuhan di Ponorogo. Bukan untuk bertugas menilang atau mengatur lalu lintas, melainkan untuk menuntun anak-anak tunanetra mengenal warisan budaya leluhurnya, Reog Ponorogo.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Denting suara kendang mengawali irama, disusul denting kenong, bunyi gong yang menggelegar, lalu lengking selompret yang mengisi ruangan. Tak ada yang berbeda dari alunan musik Reog Ponorogo itu, hingga mata kemudian menangkap para penabuh gamelan yang memainkan setiap instrumen tanpa melihat. Jemari mereka bergerak mengikuti aba-aba, telinga menjadi penuntun, sementara rasa menjadi mata.
Semua itu terjadi dengan penuh keyakinan di sebuah ruangan di Panti Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah, Jalan Pramuka, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tak ada tatapan mata yang mengikuti irama, sebab seluruh pemain adalah penyandang tunanetra. Di balik harmoni itu, berdiri seorang polisi yang saban Jumat sore hadir bukan untuk berdinas seperti biasa, melainkan membimbing mereka mengenal budaya leluhurnya sendiri.
Dialah Brigpol Luhur Ainul Fikri, anggota Satlantas Polres Ponorogo yang mendedikasikan empat tahun hidupnya melatih Reog bagi anak-anak disabilitas netra. Saat Brigpol Luhur datang, ia langsung disambut hangat oleh anak-anak tunanetra yang seakan tahu bahwa setiap Jumat adalah waktunya mereka berlatih bersama.
Tak lama kemudian, pria yang bertugas di bagian SIM Satlantas Polres Ponorogo itu menata alat gamelan, lalu menuntun dengan sabar anak-anak tunanetra ke ruangan latihan. Di sudut ruangan, Brigpol Luhur yang masih mengenakan seragam cokelat memperhatikan setiap gerakan para pemain. Sesekali ia menghampiri salah satu dari mereka, menggenggam tangan, membimbing posisi jari, lalu memberi semangat dengan senyum.
"Pak, saya ini bisa apa?" Pertanyaan itu masih membekas di benak Brigpol Luhur. Kalimat sederhana dari seorang anak tunanetra tersebut menjadi alasan mengapa ia tak pernah absen datang ke panti itu setiap Jumat sore sejak Februari 2022 lalu.
"Yang menyayat hati awal datang untuk melatih. Ada penolakan, pak saya bisa apa?," kisah Brigpol Luhur mengawali wawancara. Karena pertanyaan sederhana itu, Brigpol Luhur tergerak untuk membuktikan bahwa semua yang tercipta oleh Allah SWT sama, dan mempunyai kesempatan yang sama untuk melestarikan Reog Ponorogo. Awalnya, tak ada yang memintanya datang, ia sendiri yang mengetuk pintu panti dan menawarkan diri mengajarkan Reog kepada anak-anak tunanetra.