Kabar kurang sedap kembali menghiasi perjalanan program Makan Bergizi Gratis di tanah air. Kali ini, para siswa di SD Negeri Kauman 1 Kota Malang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serius setelah menyantap menu makanan yang dibagikan oleh pihak sekolah dalam beberapa hari berturut-turut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan yang dihimpun dari kesaksian wali murid, kejanggalan mulai dirasakan para siswa sejak awal pekan ketika mendapati menu ayam, telur, hingga ikan yang disajikan memiliki rasa serta aroma yang tidak biasa. Sebagian anak bahkan terpaksa enggan menghabiskan makanan tersebut karena menduga ada yang keliru dengan kualitas sajiannya.
Puncak dari masalah ini terjadi ketika malam hari selepas mengonsumsi menu ikan, di mana sejumlah anak mulai mengeluhkan sakit perut yang hebat, mual, hingga muntah-muntah. Kondisi fisik yang semakin melemah membuat para orang tua harus melarikan anak-anak mereka ke dokter, hingga mendapati diagnosis mengalami muntaber dengan puluhan siswa terdampak di kelas.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Malang Slamet Husnan Hariadi membenarkan adanya dugaan keracunan tersebut setelah pihak sekolah melayangkan surat permohonan uji laboratorium. Langkah pengujian sampel makanan pun langsung diambil oleh Dinas Kesehatan Kota Malang guna memastikan kandungan apa saja yang memicu sakit massal ini.
Di balik langkah-langkah birokratis tersebut, sebuah aporia atau jalan buntu logis menyeruak dan menampar nalar kita secara telak. Negara hadir dengan niat mulia membagikan asupan gizi demi mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi mekanisme pengadaan massal justru membuka celah bagi kelalaian yang mengancam nyawa anak-anak di ruang kelas.
Ketika program kesejahteraan bertransformasi menjadi rutinitas administratif, keselamatan individu seolah tereduksi menjadi sekadar angka statistik yang menunggu hasil uji laboratorium. Apakah niat luhur penguasa otomatis menghapuskan potensi bahaya dari rantai pasok makanan yang mengabaikan standar higienitas.
Pertanyaan mendasar tersebut tentu tidak menyisakan jawaban yang sederhana atau resolusi yang manis di penghujung hari. Ketidakpastian yang produktif ini justru mengajak kita untuk terus merenungkan arti perlindungan yang sesungguhnya di tengah cengkeraman proyek kebijakan besar.