Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki fase yang semakin berbahaya dan krusial. Berdasarkan laporan terbaru, Washington tidak lagi hanya membatasi target pada fasilitas militer Iran, tetapi juga mulai menyerang infrastruktur vital yang berkaitan langsung dengan kebutuhan sipil.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dalam serangan udara terbaru pada Selasa dini hari waktu setempat, proyektil militer Amerika Serikat dilaporkan menghantam sebuah silo penyimpanan gandum di Kabupaten Hoveizeh, Provinsi Khuzestan, Iran barat. Menurut pernyataan Wakil Gubernur Khuzestan yang dikutip dari Al Jazeera, insiden tersebut dikonfirmasi tidak menimbulkan korban jiwa, meskipun fasilitas penyimpanan pangan mengalami kerusakan yang cukup serius.
Dari pantauan redaksi, serangan ke Khuzestan ini menjadi bagian dari gelombang operasi militer skala besar terbaru oleh Amerika Serikat. Operasi tersebut turut menyasar sejumlah wilayah strategis di sekitar Selat Hormuz, Bandar Abbas, Bushehr, Ahvaz, Sirik, hingga wilayah Dehloran. Di Dehloran sendiri, sebuah fasilitas air minum kemasan juga dilaporkan ikut terdampak oleh serangan gempuran tersebut.
Menurut rilis resmi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), operasi intensif yang berlangsung selama sekitar tujuh jam itu melibatkan kombinasi jet tempur, drone, dan kapal perang. Pihak militer Amerika Serikat menyatakan bahwa puluhan sasaran militer dihantam secara presisi guna melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial serta kapal sipil di sekitar Selat Hormuz. Bersamaan dengan itu, Washington juga mengumumkan penerapan blokade ketat terhadap kapal-kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran.
Di tengah meluasnya operasi militer Amerika Serikat tersebut, muncul analisis mengenai alasan Iran masih mampu mempertahankan dan melancarkan serangan balasan dalam skala yang masif. Menanggapi fenomena ini, peneliti dari Asia Middle East Centre, Pizaro Gozali, menilai kondisi tersebut tidak lepas dari taktik jeda negosiasi yang sempat berlangsung selama beberapa pekan sebelum eskalasi kembali memuncak.
Berdasarkan ulasan Pizaro Gozali dalam tayangan YouTube Kompas TV, masa jeda diplomasi tersebut secara tidak langsung memberikan kelonggaran dan kesempatan emas bagi Teheran untuk memulihkan kembali seluruh kekuatan militernya yang sempat terkuras.
"Jangan lupa, negosiasi gencatan senjata sudah berlangsung selama beberapa pekan. Artinya Iran memiliki waktu untuk recovery dan reloading kemampuan militernya," ujar Pizaro saat memberikan analisisnya terkait situasi geopolitik terkini.
Melalui pengamatan tim redaksi, kesiapan logistik dan pemulihan persenjataan selama masa jeda tersebut membuat Iran kini berada dalam kondisi yang jauh lebih siap tempur dibanding saat konflik pertama kali pecah. Situasi ini pun diprediksi akan memicu ancaman baru yang lebih luas terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah serta jalur pasokan energi global.