Masyarakat Indonesia tampaknya harus bersiap memperpanjang kesabaran menghadapi cuaca panas dan minim hujan. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa kondisi cuaca kering masih akan terus mendominasi sebagian besar wilayah Tanah Air dalam beberapa waktu ke depan.
Berdasarkan laporan yang disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026), Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani membeberkan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan masih sangat minim di sejumlah region penting.
"Untuk potensi pertumbuhan awan hingga 10 hari ke depan ini kami sampaikan bahwa diperkirakan masih minim di sebagian besar Indonesia, terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku dan sebagian Papua," ungkap Teuku di hadapan para anggota dewan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, Teuku menjelaskan bahwa wilayah-wilayah tersebut akan mengalami kondisi yang relatif kering secara berkelanjutan. Dari hasil kalkulasi dan pemodelan prediksi BMKG, peralihan musim atau datangnya musim hujan secara bertahap baru akan dirasakan pada pertengahan Oktober 2026 mendatang.
Selain memantau durasi kemarau, pihak BMKG juga memberikan perhatian khusus terhadap sebaran titik panas di berbagai daerah. Teuku menyebutkan bahwa saat ini terdapat empat provinsi yang ditetapkan sebagai prioritas pengawasan ketat, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dalam kesempatan yang sama, Teuku turut menyinggung langkah mitigasi polusi udara yang sempat dilakukan di wilayah Jakarta melalui operasi modifikasi cuaca. Menurutnya, hujan yang sempat mengguyur Ibu Kota beberapa waktu lalu murni terjadi secara alami akibat pertemuan massa udara basah dari Samudra Hindia dan Pasifik menyusul penghentian sementara operasi modifikasi cuaca.