Kota kembang yang selama ini identik dengan udara sejuk dan dingin kini mendadak mencatatkan hawa yang jauh berbeda. Sejumlah warga mengeluhkan cuaca di Bandung yang terasa jauh lebih panas, terutama pada siang hari, membuat suasana terasa gerah dan sumuk.
Berdasarkan laporan media, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah di balik fenomena cuaca panas tersebut. Prakirawan BMKG Bandung Edy Wibowo menyatakan bahwa kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan awan konvektif secara lokal di wilayah tersebut.
"Sedikit penjelasan mengenai suhu udara akhir-akhir ini yaitu terdapat pertumbuhan awan konvektif secara lokal, suhu udara minimum cukup hangat dua hari terakhir pada kisaran 21 hingga 22 derajat selsius, kelembapan udara cukup lembap 55 hingga 80 persen, sehingga kondisi udara terasa panas hingga lembap atau sumuk", ujar Edy dalam keterangannya yang dikutip dari laporan media.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTidak hanya sekadar perasaan warga, catatan suhu dari stasiun meteorologi juga menunjukkan angka yang cukup tinggi. Menurut data BMKG, temperatur maksimum di Kota Bandung bahkan tercatat sempat menyentuh angka 32 derajat selsius.
Kendati demikian, pihak BMKG memastikan bahwa lonjakan suhu ini murni dipengaruhi oleh faktor lokal dan belum menandakan dimulainya masa peralihan musim. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi dampak musim kemarau, seperti kekeringan, krisis air bersih, serta risiko kebakaran hutan dan lahan akibat pembakaran sembarangan.