Jet lag menjadi fenomena umum dialami pelancong jarak jauh ketika tubuh merasa sangat lelah akibat perbedaan zona waktu. Berdasarkan pengamatan redaksi, perjalanan lintas benua membuat jam biologis internal kebingungan membedakan waktu tidur dan waktu beraktivitas.
Gejala paling kentara dari jet lag adalah kelelahan hebat di siang hari serta kesulitan tidur pada malam hari. Mengutip laporan kesehatan, kondisi ini tidak hanya memicu rasa lelah, tetapi juga memberikan tekanan pada sel tubuh, mengganggu perbaikan sel, serta memengaruhi fungsi hati dan ginjal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDari analisis awak media, akar permasalahan jet lag terletak pada gangguan jam biologis yang diatur oleh bagian otak bernama supra-chiasmatic nuclei. Profesor Neurosirkadian Russell Foster menjelaskan bahwa wilayah otak tersebut bertindak sebagai pengatur ritme siklus siang dan malam.
Dampak buruk jet lag juga mengancam kesehatan jangka panjang bagi kalangan kru pesawat yang sering melintasi banyak zona waktu. Sejumlah penelitian observasional menunjukkan adanya peningkatan risiko penyakit serius seperti kanker pada pramugari dan pilot akibat paparan gangguan ritme sirkadian kronis.
Untuk meminimalisir dampak buruk jet lag, pelancong dapat melakukan penyesuaian waktu tidur sebelum keberangkatan atau mengatur paparan cahaya secara cermat setelah tiba di tempat tujuan.