Ratusan buku ajar dari berbagai negara tetangga di Asia Tenggara tampak tertata rapi di Presidential Lounge, Istana Kepresidenan, Jakarta. Buku-buku tersebut berasal dari negara sahabat seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, hingga Vietnam.
Sebagaimana diwartakan oleh RRI, kehadiran buku-buku pelajaran luar negeri ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Kepala Negara meminta para menteri terkait untuk menelaah dan membandingkannya langsung dengan buku pelajaran yang selama ini digunakan oleh siswa di Tanah Air.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan kepada awak media bahwa langkah ini diambil untuk melihat kualitas buku negara sahabat. Pemerintah bertekad mengejar ketertinggalan dengan mendesain ulang buku pelajaran nasional baik dari segi tampilan maupun substansi materi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBagi pemerintah, sektor pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang krusial bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, perbaikan tidak hanya menyasar peningkatan kualitas guru serta prasarana, melainkan juga pembaruan mendasar pada buku pelajaran sebagai fondasi dasar.
Lebih lanjut, Prasetyo mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo menaruh perhatian khusus pada tiga aspek utama dalam buku pelajaran, yakni penanaman nasionalisme dan kebangsaan, penguatan matematika, serta kemampuan bahasa Inggris.
Pemerintah pun mengakui adanya perbedaan materi antara buku pelajaran bahasa Inggris di Indonesia dengan negara-negara yang kesehariannya menggunakan bahasa tersebut. Melalui evaluasi ini, pemerintah berkomitmen meramu ulang materi agar lebih adaptif dan relevan bagi siswa.