Program hilirisasi batu bara di Indonesia terus menjadi sorotan para pelaku industri energi. Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia menilai bahwa produk metanol dan gas sintetis jauh lebih unggul dalam hal nilai keekonomian serta fleksibilitas pasar dibandingkan dimethyl ether yang sebelumnya sempat digadang-gadang sebagai opsi utama.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy menjelaskan bahwa pengembangan gas sintesis dan metanol dari proses gasifikasi batu bara jauh lebih masuk akal untuk dikerjakan saat ini. Alasannya, rantai pasok serta ekosistem industri turunan untuk produk tersebut sudah mapan dan terbentuk dengan baik di dalam negeri.
"Pengembangan gas sintesis dan metanol dari gasifikasi batu bara jauh lebih rasional daripada DME untuk saat sini karena rantai pasok industri turunannya sudah terbentuk," ujar Sudirman dalam keterangannya.
Selain faktor rantai pasok, tingkat efisiensi serta kepastian penyerapan oleh off taker menjadi penentu utama keberhasilan proyek hilirisasi. Metanol dinilai memiliki keunggulan kompetitif karena langsung terserap oleh pasar domestik yang luas, mulai dari bahan baku industri petrokimia hingga campuran pembuatan biodiesel.
Sebaliknya, penggunaan DME dinilai memerlukan konversi infrastruktur penyaluran yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Oleh karena itu, fokus pada pengembangan metanol dianggap sebagai langkah strategis yang lebih menjanjikan keuntungan optimal bagi industri energi nasional.