Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Jaringan Ekstremis Kanan Jerman...
BERITA

Jaringan Ekstremis Kanan Jerman Diduga Provokasi Anak di Bawah Umur

By Dewi Lestari 2 min read 21 Agustus 2026
Kejaksaan federal Jerman selidiki jaringan ekstremis kanan yang provokasi anak di bawah umur untuk melakukan pembunuhan

Kejaksaan federal Jerman selidiki jaringan ekstremis kanan yang provokasi anak di bawah umur untuk melakukan pembunuhan

Aparat penegak hukum Jerman tengah memusatkan perhatian pada jaringan ekstremis kanan global yang diduga merekrut dan memprovokasi anak di bawah umur untuk melakukan tindakan kekerasan ekstrem. Berdasarkan laporan media Daily Sabah, kejaksaan federal Jerman resmi mengambil alih penanganan kasus tersebut.

Kasus ini menyeret seorang tersangka berusia di bawah 20 tahun bernama Kai M., yang telah ditahan sejak 17 Maret lalu. Ia diduga bertindak sebagai pemimpin dalam dua organisasi kriminal berideologi ekstremis kanan yang beroperasi secara daring.

Menurut penyelidikan, tersangka bersama jaringan tersebut memanipulasi anak-anak muda lewat media sosial dan platform gim. Mereka dituduh menghasut korban untuk melakukan berbagai kejahatan serius, termasuk pembunuhan, pembakaran, hingga aksi melukai diri sendiri di berbagai negara.

Salah satu kasus yang disorot jaksa melibatkan seorang anak di Rusia yang dihasut hingga tega menikam anak lainnya di sekolah. Selain itu, jaringan ini juga dikaitkan dengan kasus pemerasan dan kekerasan psikologis yang menyasar anak-anak rentan di Amerika Serikat serta Swedia.

Mengutip laporan dari pihak berwenang, kelompok tersebut diduga bagian dari subkultur online berbahaya yang bertujuan merusak tatanan sosial melalui penyebaran teror. Kasus ini menambah deretan panjang kekhawatiran atas maraknya radikalisasi kaum muda di dunia maya.

Topics
jerman ekstremis kanan kriminalitas media sosial anak di bawah umur terorisme
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.