Aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat Aur Kenali, Penyengat Rendah, hingga Mendalo Darat di depan kantor PT SAS, Jalan Lintas Mendalo-Bulian, memasuki hari kedua. Massa yang tergabung dalam Barisan Perjuangan Rakyat (BPR) tersebut terpantau masih bertahan di lokasi dengan mendirikan tenda untuk menyuarakan tuntutan mereka.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, warga mendesak agar pihak PT SAS atau RMKE Grup segera menghentikan segala aktivitas yang berkaitan dengan batubara. Warga menilai perusahaan telah mengabaikan kesepakatan bersama antara Gubernur, Walikota, pihak perusahaan, dan masyarakat yang sebelumnya telah disepakati untuk menghentikan operasional sementara hingga September 2025.
Perwakilan masyarakat menegaskan bahwa pihak perusahaan terkesan membandel dengan tetap melanjutkan pembangunan akses untuk kepentingan stockpile TUKS batubara. "Hal tersebut sudah bertentangan dengan kebijakan Gubernur. Jangan provokasi masyarakat demi kepentingan bisnis yang tidak memikirkan risiko terhadap anak cucu kita ke depan," ujar salah satu perwakilan warga di lokasi aksi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain melakukan orasi, massa aksi juga membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang melintas. Selebaran tersebut berisi edukasi mengenai dampak buruk debu batubara serta rincian jarak pemukiman warga dengan titik lokasi pembangunan akses jalan khusus dan TUKS yang diwacanakan oleh PT SAS.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat menyatakan akan terus bertahan di lokasi karena belum ada perwakilan dari manajemen PT SAS yang menemui massa secara terbuka. Warga dari berbagai wilayah, termasuk Banyu Emas dan Bahri Makmur, menyatakan penolakan tegas terhadap segala bentuk aktivitas batubara di lingkungan mereka.