Konsumsi minuman manis bergula satu kali sehari dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena kanker lambung hingga hampir tiga kali lipat berdasarkan studi terbaru dari Mass General Brigham. Penelitian jangka panjang ini menganalisis data dari lebih dari 100.000 partisipan melalui Nurses" Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study.
"Konsumsi minuman manis dan makanan ultra-proses yang terus meningkat kemungkinan besar berkontribusi pada tren kenaikan kasus kanker ini," ujar gastroenterolog dan epidemiolog Mass General Brigham Cancer Institute Andrew T. Chan seperti dikutip dari laporan media.
Para peneliti mendefinisikan minuman berpemanis sebagai soda reguler, jus buah kemasan, limun, dan minuman olahraga yang menggunakan fruktosa sebagai pemanis utamanya. Tingginya asupan fruktosa tersebut menunjukkan konsistensi keterkaitan dengan peningkatan kasus kanker lambung.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeData Centers for Disease Control and Prevention mencatat sekitar 63% orang dewasa di Amerika Serikat mengonsumsi minuman berpemanis setidaknya satu kali sehari. Peningkatan risiko ini bahkan terlihat lebih tinggi pada wanita yang mengonsumsi lebih dari satu minuman manis per hari dengan lonjakan hingga lebih dari tiga kali lipat.
Pemanis Buatan Tidak Berhubungan dengan Kanker Lambung
Di sisi lain, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances tersebut menemukan bahwa minuman berpemanis buatan seperti soda diet tidak menunjukkan hubungan dengan peningkatan risiko kanker lambung. Analisis dari lebih dari 100.000 subjek studi menegaskan bahwa efek tersebut spesifik pada kandungan gula dan fruktosa.
"Studi ini memang belum dapat membuktikan hubungan sebab dan akibat secara langsung karena sifatnya observasional, tetapi kita melihat adanya asosiasi yang kuat," jelas Chan menanggapi hasil temuan penelitian.
Tim peneliti juga mencatat bahwa sebagian besar partisipan dalam studi ini adalah tenaga kesehatan berkulit putih, sehingga temuan tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut melalui populasi yang lebih beragam. Meski demikian, para ahli menilai pengurangan konsumsi minuman manis merupakan langkah awal preventif yang dapat dilakukan.
Gastroenterolog Andrew T. Chan menyimpulkan bahwa pembatasan konsumsi minuman berpemanis memberikan cara praktis bagi masyarakat dalam menurunkan risiko gangguan kesehatan serius pada saluran pencernaan di masa depan.