Di tengah terjangan musim kemarau, warga Kampung Gunung Batur 2, Cilegon, Banten, terpaksa harus melalui perjalanan berat demi memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Ketika matahari mulai tenggelam, mereka berjalan kaki menuju dasar Sungai Sumur Tengah bukan untuk menikmati suasana sore, melainkan untuk berburu air yang tersisa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Setiap harinya, warga harus menempuh jarak sekitar satu kilometer dari pemukiman menuju sumber air di dasar sungai. Jalur yang harus dilewati pun tidak mudah karena dipenuhi bebatuan licin yang membahayakan, terutama ketika hari mulai gelap dan warga hanya mengandalkan cahaya lampu seadanya.
Setibanya di dasar sungai, puluhan galon berukuran 15 liter berjajar rapi menunggu giliran terisi. Aliran air dari mata air yang sangat pelan membuat warga harus menghabiskan waktu hingga dua jam lamanya hanya untuk menunggu satu galon penuh terisi.
Salah seorang warga bernama Hadaroh mengungkapkan bahwa ia dan tetangga lainnya sudah mengalami kesulitan air bersih sejak sekitar tiga bulan lalu. Warga tidak memiliki sumur di rumah sehingga sangat bergantung pada mata air di dasar sungai tersebut untuk kebutuhan minum dan memasak.
Agar seluruh warga mendapatkan kesempatan yang adil, proses pengambilan air diatur secara bergantian dalam dua sesi waktu, yakni pagi hingga petang serta petang hingga pagi hari. Setelah galon terisi penuh, para ibu rumah tangga harus mengangkat beban tersebut melewati jalur bebatuan terjal sebelum akhirnya dijemput oleh suami menggunakan sepeda motor.