Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Perut Lapar dan Angka Triliunan,...
BERITA

Perut Lapar dan Angka Triliunan, Antara Retorika Belas Kasihan dan Jebakan Kekuasaan

By Bambang Prasetyo • 2 min read • 20 Juli 2026
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara

Sebagaimana diwartakan oleh detik.com, Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik keras kepada pihak-pihak yang kerap mempermasalahkan program Makan Bergizi Gratis. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Presiden heran mengapa program pemenuhan gizi rakyat ini dianggap sebagai pemborosan, sementara kebocoran kekayaan negara yang mencapai ribuan triliun rupiah selama puluhan tahun justru sepi dari protes.

Menurut Prabowo, ukuran utama keberhasilan suatu peradaban adalah kemampuan bangsa tersebut dalam memberi makan rakyatnya sendiri. "Kalau ada orang-orang pintar bahwa ada yang lebih penting dari perut yang lapar ya saya persilakan Saudara-saudara, yang saya tahu dari sejarah ribuan tahun peradaban manusia tidak ada masyarakat yang bertahan tanpa pangan," tegasnya dalam arahan tersebut.

Di satu sisi, pembelaan terhadap program populis ini menyuarakan urgensi kemanusiaan yang paling mendasar demi kelangsungan hidup anak-anak, ibu hamil, serta kaum lansia. Namun di sisi lain, perbandingan antara serangan terhadap program gizi dan pengabaian kebocoran kapital masa lalu membuka sebuah celah perenungan yang jauh lebih pelik tentang bagaimana kebijakan negara sering kali berjalan di atas kontradiksi struktural.

Kita dihadapkan pada sebuah jalan buntu logis di mana kedermawanan dan karitas negara diposisikan sebagai satu-satunya ukuran moral tertinggi, seolah kritik terhadap efektivitas kebijakan otomatis menyamakan diri dengan ketidakhuduran empati terhadap perut yang lapar. Pertanyaannya kemudian, apakah sebuah masyarakat dapat merdeka secara hakiki ketika pemenuhan kebutuhan dasar rakyat direduksi menjadi instrumen retorika di tengah sistem ekonomi yang timpang?

Ketidakpastian ini terus menggantung tanpa resolusi instrumen birokratis yang memadai, sebab perdebatan di antara para elit tidak pernah benar-benar menyentuh akar ketimpangan relasi kuasa yang melanggengkan eksploitasi sejak awal. Pada akhirnya, wacana tentang kesejahteraan dan keadilan sosial akan selalu berputar dalam labirin retorika, meninggalkan rakyat sebagai penonton setia di atas panggung kekuasaan yang penuh tanda tanya.

Topics
Jurnalis Politik & Ekonomi Senior

Bambang telah menghabiskan dua dekade terakhir meliput dunia politik dan ekonomi Indonesia. Dari gedung DPR hingga Istana Negara, ia telah menyaksikan dan melaporkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk negeri ini. Tulisannya tajam, mendalam, dan selalu mengedepankan fakta serta analisis yang jernih bagi pembaca Kabayan News.