Duka mendalam menyelimuti sektor pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca diguncang gempa bumi berkekuatan M 7,7. Bencana alam ini tidak hanya meluluhlantakkan rumah warga, tetapi juga melumpuhkan ribuan sarana pendidikan yang menjadi tumpuan masa depan anak-anak di sana.
Menurut laporan terbaru yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak langsung oleh gempa. Kondisi paling memprihatinkan dialami oleh 502 sekolah yang dilaporkan mengalami rusak berat dan tersebar di tujuh kabupaten.
Sebagaimana diwartakan oleh media nasional, kerusakan tersebut mencakup 8.664 ruang kelas, di mana 5.521 di antaranya mengalami berbagai tingkat kerusakan, dan 2.229 ruang kelas masuk kategori hancur total. Dampak kehancuran ini tidak berhenti pada ruang kelas saja, melainkan merembet hingga ke laboratorium, perpustakaan, hingga hunian dinas para guru.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAkibat musibah ini, proses kegiatan belajar mengajar bagi 1.116.324 murid terpaksa terhenti dan dialihkan. Atip menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil kebijakan fleksibel agar pendidikan tetap berjalan di tengah situasi darurat.
"Dilaporkan sebanyak 923 satuan pendidikan melaporkan menerapkan belajar dari rumah, 171 pembelajaran daring, 35 sekolah belajar di kelas darurat, dan 30 sekolah masih tatap muka," ujar Atip dalam konferensi pers yang digelar secara daring.
Langkah antisipatif terus dilakukan Kemendikdasmen guna meminimalisir risiko bagi peserta didik. Selain menyiapkan panduan pembelajaran darurat dan dukungan psikososial, pemerintah mulai mendistribusikan 100 tenda untuk dijadikan ruang kelas darurat. Harapannya, fasilitas tersebut dapat mulai dimanfaatkan oleh para siswa pada pekan depan.