Kembali terjadi ketegangan di Yerusalem menyusul aksi protes warga Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredi yang menolak sebuah kafe beroperasi pada hari Sabat. Polisi Israel pun turun tangan membubarkan paksa demonstrasi yang berlangsung di Jalan Agripas, pusat kota Yerusalem, pada Sabtu (1/8).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut laporan Anadolu Agency yang dikutip dari harian Israel Yedioth Ahronoth, para pengunjuk rasa berhasil menerobos penghalang polisi yang dipasang di luar kafe Basmta. Aksi mereka langsung berhadapan dengan para pelanggan kafe yang membentuk rantai manusia di pintu masuk untuk melindungi tempat usaha tersebut.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan suasana ricuh saat beberapa pelanggan menarik selendang doa atau tallit yang dikenakan para demonstran yang berusaha masuk ke dalam kafe. Melihat eskalasi yang meningkat, aparat keamanan akhirnya turun tangan dengan menggunakan pentungan untuk membubarkan massa.
Insiden ini menarik perhatian politisi senior, Ketua Partai Yisrael Beiteinu dan anggota Knesset, Avigdor Lieberman, yang kebetulan berada di lokasi kejadian. Saat hendak meninggalkan tempat, Lieberman diteriaki oleh para pengunjuk rasa dengan kalimat "Lieberman, kembali ke Rusia komunis." Lieberman sendiri merupakan imigran asal Moldova yang lahir di Chisinau pada 1958 dan pindah ke Israel pada usia 20 tahun.
Lieberman bukannya tinggal diam. Ia menyampaikan pernyataan tegas menanggapi aksi kekacauan tersebut. "Minum secangkir kopi pada Sabtu pagi tidak bisa menjadi tindakan kepahlawanan," ujarnya. "Vandalisme yang kita lihat di belakang saya hanya membuktikan bahwa orang-orang ini seharusnya mengarahkan energi mereka untuk menghadapi Hamas, Hizbullah, dan Houthi," tambahnya merujuk pada penolakan komunitas Haredi untuk menjalani wajib militer.
Kafe Basmta yang baru dibuka musim semi lalu ini memang menjadi pusat protes berulang dari kaum ultra-Ortodoks. Bagi komunitas Haredi yang menjalani gaya hidup religius ketat dan sebagian besar memisahkan diri dari masyarakat sekuler, Sabat adalah hari suci yang dikhususkan untuk beribadah. Mereka melarang segala bentuk aktivitas komersial, termasuk membuka toko dan kafe, pada hari tersebut.
Kelompok ultra-Ortodoks sendiri merupakan minoritas signifikan di Israel, mencakup sekitar 13 persen dari total populasi yang lebih dari 10 juta jiwa. Salah satu isu paling kontroversial adalah penolakan mereka terhadap wajib militer dengan alasan agama. Mereka berargumen bahwa integrasi ke dalam masyarakat sekuler akan mengancam identitas dan cara hidup mereka yang telah dijalankan turun-temurun.