Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, kembali mengeluarkan pernyataan keras menuding Israel sebagai pihak yang sengaja memperburuk situasi di Gaza. Dalam rilis resmi yang dikutip dari Anadolu Agency pada Minggu (2/8), Hamas menuduh Israel meningkatkan serangan di Jalur Gaza secara terencana untuk merusak kesepakatan gencatan senjata yang telah dirundingkan dengan para mediator dan pemerintahan AS.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Hamas melaporkan bahwa sejak Minggu pagi, serangan-serangan Israel telah menewaskan lebih dari 18 warga Palestina dan memusnahkan seluruh keluarga dalam satu waktu. Korban jiwa disebutkan terus berjatuhan meskipun perjanjian gencatan senjata secara teoritis masih berlaku.
Kelompok tersebut dengan tegas menyebut pemboman ini sebagai "eskalasi yang disengaja oleh pemerintah penjahat perang Netanyahu" yang bertujuan menghalangi implementasi kesepakatan. Mereka menyebut Netanyahu sebagai aktor utama di balik upaya menghambat kesepakatan yang sudah mencapai tahap pemahaman dengan mediator internasional dan Amerika Serikat.
Menghadapi situasi ini, Hamas menyerukan kepada para mediator dan penjamin kesepakatan untuk segera mengambil tanggung jawab. Mereka meminta agar serangan Israel dikutuk secara keras dan tekanan segera diberikan kepada Israel untuk menghentikan aksi militernya serta mematuhi isi perjanjian yang telah ditandatangani.
Hamas juga menggambarkan serangan-serangan ini sebagai pelanggaran berat yang "setara dengan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan." Mereka mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah hukum dalam rangka meminta pertanggungjawaban para pemimpin Israel atas kekejaman yang terus berlangsung.
Lebih jauh, Hamas mendesak adanya langkah perlindungan konkret bagi warga Palestina yang terus hidup di bawah "ancaman genosida dan pemindahan paksa." Situasi di Gaza disebut semakin darurat dengan korban yang terus bertambah dan infrastruktur yang hancur.
Sebelumnya pada Jumat (31/7), Dewan Perdamaian dan Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan untuk melanjutkan fase kedua gencatan senjata. Disebutkan bahwa Hamas telah menerima peta jalan rinci yang diajukan. Namun hingga kini, Israel belum memberikan tanggapan resmi atas proposal tersebut, yang semakin mempertegas ketidakpastian situasi di Gaza.