Aksi penjajahan Israel di Tepi Barat kembali memanas. Pada Minggu (2/8), sekelompok penjajah Israel menyerang infrastruktur kelistrikan di kota Madama, dekat Nablus, menyebabkan pemadaman listrik di bagian utara wilayah tersebut. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan penggerebekan militer Israel yang menangkap lima warga Palestina dalam operasi di sejumlah titik di Tepi Barat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Badan berita resmi Palestina, Wafa, melaporkan bahwa serangan terhadap Madama dilakukan dengan cara memotong dan merusak tiang-tiang listrik. Akibatnya, aliran listrik ke wilayah utara kota Madama yang berpenduduk sekitar 3.000 jiwa itu terputus total. Aktivitas warga lumpuh seketika, sementara belum ada pernyataan resmi dari pihak Israel mengenai insiden ini.
Di kota Nablus, militer Israel menggerebek kawasan timur dan melakukan penggeledahan di sejumlah rumah. Operasi itu menghasilkan penangkapan dua warga Palestina, demikian menurut laporan Wafa. Tidak jauh dari sana, pasukan Israel juga melakukan penggerebekan di kota Tel, yang terletak di barat daya Nablus. Meski sejumlah rumah digeledah, tidak ada laporan penangkapan dalam operasi di kota tersebut.
Jarak penangkapan bertambah setelah pasukan Israel menangkap tiga pemuda Palestina dari kamp pengungsian Dheisheh, selatan Bethlehem. Penangkapan dilakukan setelah militer Israel menggerebek dan menggeledah rumah-rumah keluarga para pemuda tersebut. Selain itu, pasukan Israel juga dikabarkan menggerebek rumah keluarga Kanaan di pusat Bethlehem, dan menempelkan pengumuman bernada ancaman di dinding Masjid Salah al-Din.
Konflik di Tepi Barat telah menunjukkan eskalasi yang signifikan sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023. Data resmi Palestina mencatat, sejak saat itu, serangan militer dan penjajah Israel di Tepi Barat telah menewaskan lebih dari 1.182 warga Palestina, melukai sekitar 13.000 orang, dan menyebabkan penangkapan hampir 24.000 warga lainnya. Situasi ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah pendudukan tersebut.