Raksasa minyak Teluk menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun dan memperluas infrastruktur pipa baru demi menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz di tengah berkecamuknya perang di Iran. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, jalur pengiriman minyak paling efisien di dunia tersebut kini lumpuh akibat ancaman drone, ranjau laut, dan eskalasi militer yang mematikan.
Ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz anjlok drastis dari sekitar 20 juta barel per hari menjadi hanya 3,7 juta barel per hari. Sebagaimana dilaporkan perusahaan pelacakan maritim Kpler, kapal-kapal tanker terpaksa menavigasi jalur berbahaya atau mematikan perangkat pelacak lokasi agar bisa keluar dari kawasan Teluk Persia.
Uni Emirat Arab melalui Abu Dhabi National Oil Co. atau ADNOC mengalokasikan anggaran besar untuk menggandakan kapasitas jalur pipa menuju pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. Proyek ambisius ini dirancang agar sebagian besar minyak mentah daratan dapat langsung diekspor tanpa harus melintasi perairan Selat Hormuz.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi negara tetangga, raksasa energi Saudi Aramco mempercepat ekspansi Pipa Timur-Barat lintas Semenanjung Arab menuju Laut Merah guna mengamankan pasokan ekspor. "Dalam hal mengekspor minyak mentah, kami secara aktif mencari peningkatan opsi alternatif saat ini," ujar CEO Saudi Aramco, Amin Nasser.
Negara-negara produsen lain seperti Kuwait dan Irak turut menghidupkan kembali rencana pembangunan pipa alternatif menuju Laut Merah maupun Mediterania. Selain pipa darat, produsen minyak Teluk juga memperluas kapasitas penyimpanan raksasa di negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan India sebagai langkah antisipasi jangka panjang.