Mata uang Garuda kembali menunjukkan taringnya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data perdagangan pada Kamis, 20 Agustus 2026, rupiah ditutup terapresiasi ke level Rp17.748 per dolar AS. Mengacu pada data Bloomberg, nilai tukar rupiah mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 92 poin atau menguat 0,52 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Menurut Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, penguatan tajam rupiah ini tidak lepas dari sentimen global, khususnya rencana pemerintah AS yang akan melakukan intervensi pada imbal hasil obligasi jangka panjang. "Rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia menguat tajam terhadap dolar AS oleh rencana pemerintah Amerika Serikat melakukan intervensi pada imbal hasil obligasi AS jangka panjang dengan menggandakan operasi buyback," jelas Lukman saat dihubungi sebagaimana dikutip dari laporan Suara.com.
Selain sentimen dari kebijakan AS, stabilitas moneter domestik juga memberikan kontribusi positif. Lukman menambahkan bahwa keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan BI Rate menjadi faktor penopang utama yang menjaga daya tarik mata uang lokal tetap kuat di pasar keuangan hari ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTren positif rupiah ini sejalan dengan kinerja mata uang lainnya di kawasan Asia yang mayoritas juga berada di zona hijau. Ringgit Malaysia tercatat berada satu level di bawah rupiah dengan penguatan sebesar 0,42 persen. Sementara itu, peso Filipina, baht Thailand, hingga yuan China juga kompak mencatatkan apresiasi di hadapan mata uang Paman Sam.
Menatap perdagangan besok, para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data ekonomi domestik yang krusial. "Untuk besok, investor mengantisipasi data neraca transaksi berjalan kuartal kedua Indonesia," pungkas Lukman.