Pemerintah Kabupaten Pangandaran bersama sejumlah instansi terkait menggelar simulasi evakuasi bencana di SMA Negeri 1 Pangandaran pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan siswa sebagai bentuk edukasi mitigasi dalam memperingati 20 tahun tragedi tsunami Pangandaran yang terjadi pada 2006 silam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam simulasi tersebut, para siswa tampak antusias mempraktikkan prosedur penyelamatan diri saat gempa bumi terjadi. Begitu sirene tanda bahaya berbunyi, mereka langsung berlindung di bawah meja sebelum melakukan evakuasi secara tertib menuju titik kumpul yang aman. Selain evakuasi, para pelajar juga dibekali pelatihan pertolongan pertama untuk korban bencana.
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami menyatakan bahwa peringatan dua dekade tsunami ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesiapsiagaan generasi muda. "Kita juga mengenang bagaimana dahsyatnya bencana tsunami pada 17 Juli 2006. Saat itu, lebih dari 600 warga Pangandaran meninggal dunia," ujar Citra saat memantau jalannya simulasi.
Citra menambahkan, banyaknya korban jiwa pada masa lalu disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat terkait mitigasi bencana dan cara menyelamatkan diri yang benar. "Oleh karena itu, hari ini kita melaksanakan simulasi bagaimana cara evakuasi saat menghadapi gempa bumi dan tsunami. Harapannya, apabila suatu saat terjadi bencana, anak-anak sudah memahami langkah yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri," ucapnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Pangandaran Mulyana menyambut baik kolaborasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran ini. Ia menilai edukasi ini sangat krusial lantaran mayoritas siswa saat ini lahir setelah tragedi mematikan tersebut dan tidak mengalami langsung peristiwa dua dekade lalu.
"Mitigasi bencana harus menjadi pengetahuan wajib bagi seluruh warga sekolah. Kita tentu berharap bencana tidak terjadi, tetapi kesiapsiagaan harus terus dibangun agar risiko korban dapat diminimalkan," tutur Mulyana. Kegiatan ini juga turut didukung oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM).