Di tengah ketegangan hubungan dengan negara-negara Barat akibat perang di Ukraina dan sanksi global, Rusia mengalihkan fokus strategisnya ke sektor pendidikan tinggi. Moskow berambisi memperkuat hubungan jangka panjang dengan negara-negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan melalui jalur diplomasi pendidikan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Presiden Rusia Vladimir Putin telah menetapkan target ambisius untuk mendatangkan hingga 500.000 mahasiswa internasional ke dalam negeri pada tahun 2030 mendatang. Angka tersebut meningkat signifikan dari jumlah saat ini yang berada di kisaran 400.000 mahasiswa asing.
Langkah ini dirasakan langsung di berbagai institusi pendidikan, salah satunya RUDN University di Moskow. Kampus tersebut kini menjadikan kawasan Asia sebagai pasar rekrutmen terbesar, dengan ribuan mahasiswa yang mendalami berbagai bidang ilmu seperti kedokteran, teknik, hingga teknologi informasi.
Angelicha Malau, seorang mahasiswi asal Indonesia yang menempuh studi psikologi di RUDN University, mengaku tertarik karena pengalaman multikultural yang ditawarkan. "Ini akan memberi saya pengalaman baru, terutama pengalaman internasional, dan saya akan mengenal banyak budaya baru serta bertemu banyak orang baru," ungkapnya.
Bagi banyak mahasiswa asing, biaya kuliah yang relatif terjangkau serta kualitas pendidikan yang kompetitif menjadi daya tarik utama yang mengalahkan isu geopolitik. Selain itu, pemerintah Rusia juga menyediakan puluhan ribu beasiswa yang didanai negara setiap tahunnya guna mempermudah proses pendaftaran.
Kalangan pengamat menilai pendidikan tinggi telah lama menjadi salah satu instrumen diplomasi lunak paling efektif bagi Moskow. Melalui jaringan alumni yang kelak menjadi pemimpin atau profesional di negara asal mereka, Rusia berupaya membangun jembatan kerja sama ekonomi dan politik yang kokoh.