Pasien neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD) terbukti menghadapi risiko jauh lebih tinggi terkena penyakit arteri perifer atau peripheral artery disease (PAD) serta penggumpalan darah vena atau venous thromboembolism (VTE) dibandingkan populasi umum. Temuan penting ini dipublikasikan dalam International Journal of Medical Sciences melalui riset berbasis populasi skala nasional di Taiwan.
Para peneliti mendapati NMOSD berkaitan erat dengan peningkatan risiko PAD sebesar 40 persen serta lonjakan risiko VTE hingga hampir lima kali lipat dibandingkan kelompok kontrol. Studi ini menganalisis data dari Taiwan National Health Insurance Research Database dengan melibatkan ribuan pasien yang menerima diagnosis baru NMOSD antara tahun 2003 sampai 2020.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan analisis statistik dengan model Cox proportional hazards, tingkat keparahan penyakit memegang peranan krusial terhadap risiko vaskular tersebut. Pasien dengan kondisi keparahan tinggi tercatat memiliki risiko PAD lebih dari dua kali lipat serta risiko VTE hampir 12 kali lipat dibandingkan individu sehat.
Pengamatan Kabayan News menunjukkan bahwa aktivitas autoimun sistemik serta peradangan kronis pada penderita NMOSD memicu disfungsi endotel dan kondisi prothrombotic. Faktor tersebut semakin diperparah oleh keterbatasan mobilitas pasien selama masa kekambuhan maupun saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Tim peneliti menekankan pentingnya pemeriksaan risiko vaskular secara proaktif serta manajemen pencegahan komprehensif bagi setiap penyandang NMOSD. Langkah deteksi dini ini dinilai krusial untuk menekan potensi komplikasi kardiovaskular dan vaskular serius seiring perjalanan penyakit pasien.