Sistem kesehatan di kawasan Asia Tenggara mulai mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Jika sebelumnya perawatan medis selalu berpusat sepenuhnya pada dokter dan rumah sakit, kini tren perawatan mandiri atau self-care mulai mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Perubahan ini dinilai krusial untuk menghadapi tantangan masa depan di kawasan ASEAN yang mencakup hampir 700 juta penduduk. Maria Valentina Sposito selaku Zone General Manager Southeast Asia, South Korea, Hong Kong, dan Taiwan di Opella mengungkapkan bahwa pendekatan ini dapat mengubah cara masyarakat mengakses layanan kesehatan secara keseluruhan.
Berdasarkan definisi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, perawatan mandiri mencakup kemampuan individu, keluarga, dan komunitas dalam mempromosikan serta menjaga kesehatan, mencegah penyakit, dan mengatasi gangguan kesehatan. Praktik ini bisa dilakukan secara mandiri maupun dengan dukungan tenaga profesional melalui penggunaan obat bebas atau alat digital rumahan.
Sebuah studi terbaru yang dirilis di Vietnam menunjukkan hasil yang membanggakan. Melalui penelitian bertajuk Vietnam's Self-Care Readiness Study yang digarap oleh Health Strategy and Policy Institute di bawah Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Opella Vietnam, negara tersebut sukses menempati peringkat keempat secara global.
Posisi Vietnam dalam studi kesiapan perawatan mandiri tersebut berada di bawah Singapura, Australia, dan Jerman. Penilaian ini mencakup evaluasi terhadap sistem kesehatan, lingkungan regulasi, tingkat literasi kesehatan masyarakat, akses terhadap perangkat digital, hingga ketersediaan obat bebas yang terjamin kualitasnya.
Dr Valentina Belcheva selaku Country Head untuk Vietnam dan Kamboja di Opella menyatakan bahwa riset tersebut menjadi tonggak penting bagi dunia kesehatan regional. Menurutnya, studi ini memberikan gambaran sistematis pertama kalinya mengenai berbagai kebutuhan serta hambatan yang dihadapi masyarakat dalam perjalanan perawatan mandiri.
Langkah strategis ini dinilai sangat tepat mengingat tekanan besar yang sedang dihadapi oleh sistem kesehatan di Asia. Di banyak negara berkembang di kawasan Asia Pasifik, rasio ketersediaan dokter masih sangat terbatas, yakni hanya berkisar 1,1 hingga 1,6 dokter untuk setiap 1.000 penduduk.
Selain keterbatasan tenaga medis, tantangan demografi juga menjadi sorotan utama dengan cepatnya laju penuaan populasi. Diprediksi bahwa satu dari empat orang di kawasan Asia Pasifik akan berusia di atas 60 tahun pada tahun 2050 mendatang, sementara penyakit tidak menular menyumbang lebih dari separuh total kematian.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, para ahli menegaskan bahwa perawatan mandiri bukanlah sekadar tren gaya hidup konsumen modern. Sebaliknya, pendekatan ini diposisikan sebagai salah satu pilar utama untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional di masa depan.
Di Vietnam sendiri, dukungan dari penyedia layanan kesehatan terhadap perawatan mandiri sudah tergolong cukup kuat. Sekitar 73 persen tenaga medis di negara tersebut telah memasukkan edukasi perawatan mandiri ke dalam sesi konseling pasien sehari-hari.
Kendati demikian, sejumlah tantangan masih harus diselesaikan bersama, seperti kepercayaan publik yang beragam, maraknya penyebaran informasi keliru di media sosial, serta keterbatasan tenaga kesehatan di lini depan. Pemerintah dan pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus meningkatkan literasi kesehatan serta akses informasi yang aman bagi masyarakat.