Jakarta - Kehebohan di dalam gerbong KRL menjadi sorotan usai unggahan viral mengungkap adanya oknum yang menggunakan pin ibu hamil palsu. Peristiwa ini memicu percekcokan antarpengguna dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kisah berawal dari seorang wanita yang meminta tempat duduk prioritas kepada penumpang lain dengan mengaku sebagai ibu hamil. Namun, seorang pria yang mengetahui tanda-tanda keaslian pin langsung menegaskan bahwa atribut yang dikenakan wanita tersebut adalah palsu.
Pria itu pun menyarankan agar ibu yang sedang duduk di kursi prioritas tidak perlu memberikan tempat duduknya. Tak terima ditegur di depan umum, wanita ber-pin palsu itu langsung marah-marah dan berusaha memainkan peran sebagai korban.
"Eh, si ibu berkerudung kuning malah ngoceh dan playing victim. Dia bilang, "Kamu enggak punya ibu di rumah? Emang apa salahnya saya duduk? Ngerugiin kamu?" Terus si masnya malah disuruh duduk sama ibu ini sambil bilang, "Tuh kasihan mbaknya malah bangun gara-gara kamu." Si masnya cuma diam saja, dan ibu berbaju putih juga ogah duduk," tulis pengguna Threads yang membagikan kronologi kejadian.
Pin yang digunakan diduga kuat dibeli secara bebas dari platform e-commerce. Pantauan CNBC Indonesia menemukan maraknya penjual yang menawarkan pin ibu hamil dengan berbagai desain di marketplace. Mulai dari yang tampilannya sangat mirip dengan pin resmi KAI Commuter, hingga yang berbeda jauh dari segi warna dan bentuk.
Harga pin tersebut pun bervariasi, berkisar antara Rp9.000 hingga Rp17.000 per buah. Murahnya harga dan kemudahan akses membuat pin palsu ini kian meresahkan karena berpotensi disalahgunakan oleh penumpang yang ingin mendapatkan kursi prioritas tanpa hak.
Menanggapi kasus viral ini, KAI Commuter buka suara. Pihak operator KRL itu membagikan ciri-ciri pin ibu hamil resmi terbitan mereka, yaitu memiliki logo KAI serta mencantumkan tanggal masa aktif. Dengan begitu, penumpang bisa lebih waspada dan tidak mudah tertipu oleh atribut palsu.