Kabar kurang mengenakkan bagi para pencinta kopi manis berempah karena minuman andalan Starbucks, yaitu Pumpkin Spice Latte atau yang kerap disingkat PSL, dipastikan tidak akan tersedia sepanjang tahun di gerai-gerai mereka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Meskipun memiliki daya tarik penjualan yang sangat tinggi dan selalu dinanti-nantikan pencintanya, pihak manajemen menegaskan bahwa status minuman tersebut akan tetap dipertahankan sebagai menu spesial musim gugur saja.
"Kami telah membahas hal ini beberapa kali, dan kami selalu kembali pada kesimpulan bahwa minuman ini benar-benar menjadi ciri khas dari sebuah musim tertentu," ujar Chairman dan CEO Starbucks, Brian Niccol, seperti dilansir dari Yahoo Finance.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kehadiran minuman tersebut berfungsi sebagai penanda dimulainya rangkaian musim gugur hingga liburan akhir tahun bagi para konsumen setia mereka di berbagai belahan dunia.
"Dan saat ini, kami tidak memiliki rencana untuk menjadikannya menu permanen. Namun, kami akan memaksimalkan momen ketika orang-orang ingin menikmati pengalaman musim Pumpkin Spice Latte yang hebat," tambah Niccol.
Pertama kali diperkenalkan pada tahun 2003 melalui uji coba di sekitar 100 gerai sebelum dirilis secara nasional pada tahun berikutnya, minuman ini telah menjelma menjadi identitas musiman yang paling ditunggu dari merek kopi global tersebut.
Sejak kemunculannya pertama kali, diperkirakan ratusan juta gelas Pumpkin Spice Latte telah terjual di seluruh dunia, biasanya kembali menghiasi menu di Amerika Serikat pada akhir Agustus untuk menyambut musim gugur.
Di sisi lain, keputusan strategis ini diambil di tengah performa finansial perusahaan yang sedang kinclong berkat fokus pada peningkatan kualitas operasional restoran dan jam-jam sibuk di sore hari.
Penjualan toko global yang sebanding dilaporkan melonjak hingga 7,9 persen, jauh melampaui ekspektasi para analis Wall Street, sekaligus menandai pertumbuhan kuartalan berturut-turut di bawah kepemimpinan Niccol.
Perusahaan juga mencatatkan kenaikan laba bersih serta margin operasional yang signifikan berkat efisiensi biaya yang ketat, membuat saham Starbucks perlahan mendekati rekor tertinggi yang pernah dicapai pada Juli 2021 lalu.