Unit layanan cloud Microsoft Corp. mencatat pertumbuhan tercepat dalam empat tahun terakhir, didorong oleh lonjakan permintaan layanan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan. Pendapatan Azure naik 43% pada kuartal keempat tahun fiskal, melampaui perkiraan analis yang sebesar 40%.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Angka ini menjadi pertumbuhan kuartalan tercepat sejak awal tahun 2022. Pendapatan Azure juga menembus US$100 miliar atau setara Rp1.808,2 triliun untuk pertama kalinya selama tahun fiskal yang berakhir pada Juni 2026, menandai pencapaian bersejarah bagi raksasa teknologi asal Redmond tersebut.
Chief Financial Officer Microsoft, Amy Hood, menyatakan optimisme terhadap prospek unit cloud ke depan. "Permintaan terus melebihi pasokan yang tersedia," ujarnya dalam pertemuan dengan para analis. Hood memproyeksikan pertumbuhan Azure akan semakin meningkat pada kuartal saat ini, mencapai sekitar 45%.
Hood juga mengindikasikan bahwa Microsoft akan mempertahankan belanja modal yang agresif tahun ini untuk membangun pusat data baru dan membeli chip yang diperlukan guna menangani layanan AI. Langkah ini turut mendorong kenaikan harga saham Microsoft sekitar 8% dalam perdagangan pre-market pada Kamis.
Meskipun saham Microsoft telah turun sekitar 19% sepanjang tahun ini hingga penutupan perdagangan Rabu karena kekhawatiran pengeluaran besar, sentimen positif dari kinerja Azure diyakini mampu mengembalikan kepercayaan investor. Sejak memicu booming AI bersama mitranya OpenAI, Microsoft terus mengalihkan fokus ke model AI dan software otonom.
Produk-produk AI generatif membutuhkan daya komputasi yang sangat besar, sehingga Microsoft ikut serta dalam gelombang belanja investasi di seluruh industri. Para analis menilai pertumbuhan Azure yang solid menjadi indikasi bahwa strategi Microsoft dalam mengintegrasikan AI ke seluruh lini bisnis cloud mulai membuahkan hasil yang signifikan.