CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyatakan bahwa perusahaannya bisa sekaligus mendorong ambisi AI dan menyewakan kapasitas komputasi yang langka untuk meningkatkan keuntungan. Namun, para investor tampaknya kurang yakin dengan strategi tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pemilik Instagram ini menggelontorkan dana miliaran dolar untuk membangun komputasi yang meliputi chip, server, energi, dan pusat data untuk kecerdasan buatan. Akibatnya, arus kas bebas Meta hanya tersisa 784 juta dolar AS pada kuartal kedua, turun drastis 91 persen dibanding tahun lalu, yang langsung membuat sahamnya terpukul 9 persen di perdagangan pra-pasar Kamis.
Dalam sesi tanya jawab dengan analis, Zuckerberg menegaskan bahwa komputasi adalah aset strategis yang langka dan sebaiknya dipertahankan serta dikembangkan sendiri, bukan dijual untuk keuntungan jangka pendek. Namun, ia mengakui bahwa banyak pihak menawarkan harga premium untuk menyewa kapasitas komputasi Meta guna menjalankan rencana AI mereka sendiri.
Tantangan utama Meta saat ini adalah menyeimbangkan tekanan cash flow dengan kebutuhan untuk mendiversifikasi pendapatan. Menyewakan komputasi bisa meringankan beban keuangan, tapi akan mengalihkan sumber daya dari pengembangan model dan layanan AI internal yang sedang digarap.
Meta yang selama ini bergantung pada iklan dari Facebook dan Instagram, kini harus bersaing dengan raksasa teknologi seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon yang sudah lebih dulu menguasai pasar enterprise. Microsoft baru-baru ini melaporkan pertumbuhan bisnis cloud Azure dan Copilot yang melampaui ekspektasi, dengan sahamnya naik 8 persen meski free cash flow-nya turun 23 persen.
Zuckerberg optimistis bahwa AI akan menghasilkan margin lebih tinggi daripada menjual komputasi secara langsung. Ia membayangkan asisten pribadi berbasis AI bisa menjadi produk massal yang digunakan miliaran konsumen, sementara agen bisnis akan membantu perusahaan dalam layanan pelanggan, penjualan, dan pemasaran. Sayangnya, ia masih belum memberikan rincian konkret soal model bisnis yang akan menopang belanja besar-besaran ini.
Menjawab pertanyaan analis J.P. Morgan, Doug Anmuth, Zuckerberg menjelaskan bahwa Meta sengaja berinvestasi lebih dulu dari permintaan. Ia menyebut pembangunan pusat data membutuhkan waktu dan nilai baru akan terasa setelah fasilitas tersebut beroperasi. Pernyataan ini mengingatkan pada strategi perusahaan-perusahaan cloud besar yang biasa berinvestasi di muka.
Analis eToro, Josh Gilbert, mengomentari bahwa Meta memang membelanjakan uang seperti perusahaan hyperscaler, tapi tanpa model bisnis yang sebanding. Menurutnya, Microsoft, Alphabet, dan Amazon bisa mengarahkan belanja pusat data mereka ke bisnis cloud yang langsung menjual komputasi, sementara Meta tidak memiliki jalur yang sama, sehingga setiap dolar investasi masih bergantung pada bisnis iklan.
Investor pun mulai khawatir karena pola belanja ini mengingatkan pada kegagalan besar Meta di metaverse yang telah menelan puluhan miliar dolar tanpa hasil signifikan. Penurunan free cash flow pada kuartal April-Juni ini menjadi yang paling tajam sejak akhir 2022, periode ketika investasi metaverse juga mendapat sorotan tajam dari pemegang saham.
Meski demikian, Meta tetap menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal sebesar 5 miliar dolar AS menjadi kisaran 130-145 miliar dolar AS. Langkah serupa juga dilakukan Alphabet yang menaikkan proyeksi belanja 15 miliar dolar AS pekan lalu, yang justru membuat sahamnya turun 7 persen setelah melaporkan cash burn pertama kalinya.
CFO Meta, Susan Li, dalam panggilan telepon seusai rilis pendapatan, membela langkah ini dengan mengatakan bahwa industri selama ini kekurangan pasokan untuk memenuhi permintaan AI, sehingga kapasitas yang ada menjadi sangat berharga. Ia memperkirakan kapasitas akan tetap ketat dalam jangka panjang, membuka peluang bagi Meta untuk meraih imbal balik dari produk, layanan enterprise, dan penjualan komputasi.
Namun, ketika ditanya analis Wells Fargo, Ken Gawrelski, mengenai rencana Meta menggunakan seluruh kapasitas komputasinya hingga 2027, Li belum memberikan jawaban pasti. Ia hanya mengulangi argumen Zuckerberg bahwa Meta bisa menemukan penggunaan yang menguntungkan untuk komputasi tambahan, baik di dalam maupun di luar perusahaan, tanpa menyebutkan di mana imbal hasil terbesar akan diperoleh.
Analis Bernstein, Mark Shmulik, menilai panggilan pendapatan Meta kali ini terasa seperti sesi curah pendapat ala kadarnya. Ia menilai kurangnya detail konkret membuat investor masih bertanya-tanya tentang masa depan strategi AI Meta, apalagi dengan sejarah investasi mahal yang belum terbukti di metaverse.