Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Startup AI Tanpa Produk Ini Dihargai...
EKONOMI

Startup AI Tanpa Produk Ini Dihargai Rp 500 Triliun, Kok Bisa

By Redaksi Kabayan News • 4 min read • 30 Juli 2026
Ilustrasi logo Safe Superintelligence SSI dan chip Nvidia dengan latar belakang jaringan AI

Ilustrasi logo Safe Superintelligence SSI dan chip Nvidia dengan latar belakang jaringan AI

Di dunia startup, biasanya perusahaan perlu punya produk, pelanggan berbayar, dan jalur menuju profitabilitas agar investor mau menggelontorkan dana miliaran dolar. Namun Safe Superintelligence SSI seolah membuktikan bahwa semua aturan itu bisa dilanggar. Startup berbasis kecerdasan buatan ini kini dihargai 32 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp 500 triliun, meski hanya memiliki sekitar 50 karyawan dan belum pernah merilis produk komersial maupun publikasi riset.

Lonjakan valuasi SSI terjadi dalam waktu singkat. Hanya dalam beberapa bulan setelah diluncurkan pada 2024, startup ini berhasil mengumpulkan 1 miliar dolar AS dengan valuasi sekitar 5 miliar dolar AS. Tujuh bulan kemudian, putaran pendanaan tambahan sebesar 2 miliar dolar AS mendorong valuasi melonjak 540 persen ke angka 32 miliar dolar AS. Semua itu terjadi sebelum SSI meluncurkan satu pun produk atau mempublikasikan hasil penelitian.

Kabar terbaru, Nvidia dilaporkan tengah berinvestasi sekitar 5 miliar dolar AS di SSI berdasarkan laporan Bloomberg. Selain suntikan dana, SSI juga akan mendapatkan akses ke platform Vera Rubin generasi terbaru buatan Nvidia yang disebut-sebut mampu meningkatkan kapasitas komputasi perusahaan hingga sepuluh kali lipat. CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan kegembiraannya atas kemitraan ini dan yakin SSI akan menemukan terobosan baru dengan dukungan platform tersebut.

Di balik valuasi fantastis itu, SSI digawangi oleh nama-nama besar di industri AI. Pendiri sekaligus kepala ilmuwan SSI adalah Ilya Sutskever, mantan kepala ilmuwan OpenAI yang dikenal sebagai salah satu arsitek di balik kesuksesan ChatGPT. Sutskever meluncurkan SSI bersama Daniel Gross, mantan eksekutif AI Apple, dan Daniel Levy, mantan peneliti OpenAI. Namun Gross dikabarkan telah hengkang dari perusahaan, sehingga tekanan kini berada di pundak Sutskever dan Levy untuk membuktikan bahwa valuasi raksasa ini sepadan.

SSI mengusung misi yang ambisius dengan pendekatan yang tidak biasa. Perusahaan menyebut dirinya mengambil jalur lurus straight shot untuk membangun superintelligence yang aman dan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, fokus utama SSI adalah riset fundamental, bukan mengejar pendapatan jangka pendek atau merilis produk komersial seperti kebanyakan startup AI lainnya. Pendekatan ini membuat investor harus menaruh kepercayaan luar biasa pada kemampuan para pendiri.

Keyakinan investor pada Sutskever bukan tanpa alasan. Sebelum mendirikan OpenAI, ia bersama Geoffrey Hinton dan Alex Krizhevsky menciptakan AlexNet, jaringan saraf yang menjadi tonggak awal penggunaan chip grafis untuk melatih AI. Selama hampir satu dekade di OpenAI, Sutskever menjabat sebagai kepala ilmuwan dan berperan besar dalam mengembangkan teknologi yang mendorong AI generatif ke arus utama. CEO Nvidia Jensen Huang menyebut Sutskever telah berkontribusi pada sebagian besar kemajuan penting AI modern.

Namun tantangan besar tetap menghadang. Financial Times melaporkan bahwa komitmen investasi sebesar ini biasanya dikaitkan dengan pencapaian tonggak tertentu oleh startup. SSI juga belum mengungkapkan secara terbuka hasil riset mereka, sehingga investor hanya bisa berharap pada janji terobosan besar. Perusahaan belum merespons permintaan komentar dari Moneywise terkait detail investasi Nvidia. Tekanan untuk membuktikan nilai perusahaan kini semakin besar.

Di balik hiruk-pikuk investasi, masalah yang ingin dipecahkan SSI justru semakin krusial. Dalam uji keamanan siber baru-baru ini, model OpenAI ditemukan mencari cara keluar dari sistem pengujian terbatas dan mengakses platform Hugging Face untuk mencari informasi yang bisa membantu performa mereka. Perilaku tak terduga ini menunjukkan mengapa para peneliti khawatir tentang menjaga sistem AI yang semakin kuat tetap selaras dengan instruksi manusia. Dan itulah mengapa investor bersedia mempertaruhkan miliaran dolar pada Sutskever.

Investasi Nvidia ke SSI juga menjadi pola yang semakin umum di industri AI. Perusahaan chip ini sebelumnya membuat kesepakatan serupa dengan OpenAI dan Thinking Machines Lab, startup yang didirikan oleh mantan eksekutif OpenAI Mira Murati. Pola pendanaan melingkar circular financing ini membuat pabrikan chip menanamkan modal pada pengembang AI, yang kemudian menggunakan dana tersebut untuk membeli perangkat keras mereka sendiri. Bagi Nvidia, ini adalah taruhan bahwa Sutskever akan melahirkan terobosan besar lain yang membutuhkan lebih banyak daya komputasi.

Topics
safe superintelligence ssi ilya sutskever nvidia investasi ai startup ai kecerdasan buatan vera rubin openai valuasi startup
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.