Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target ambisius dalam rencana jangka panjangnya. Lembaga bursa membidik jumlah perusahaan tercatat atau emiten mencapai 1.100 pada tahun 2030 mendatang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Untuk mewujudkan target tersebut, diperlukan penambahan sekitar 150 emiten baru dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Artinya, rata-rata dibutuhkan sekitar 30 penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) anyar setiap tahunnya.
Menanggapi target ambisius itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menilai sasaran tersebut sangat realistis. Namun, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi secara konsisten.
"Saat ini, perusahaan tercatat sebanyak 963. Bila tahun 2030 ditargetkan 1.100, maka ada penambahan sekitar 30-an IPO baru setiap tahunnya," ujar Hasan di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Hasan menjelaskan, pertumbuhan jumlah emiten harus diiringi dengan pendalaman pasar serta perbaikan transparansi dan tata kelola perusahaan. Ketiga faktor ini menjadi kunci utama agar ekosistem pasar modal tetap sehat dan menarik minat investor.
Pada akhir tahun 2025, nilai kapitalisasi pasar di BEI tercatat mencapai Rp15.000 triliun. Dengan tambahan sekitar 150 perusahaan baru melalui IPO hingga 2030, angka tersebut diproyeksikan akan melonjak signifikan, terutama jika perusahaan yang melantai memiliki fundamental bisnis yang kuat.
"Dengan penambahan sekitar 150 perusahaan yang IPO baru, dengan kualitas yang baik, mendongkrak lagi kapitalisasi pasar," kata dia menambahkan.
Hasan juga mengungkapkan bahwa pasar modal Indonesia saat ini telah berada di jajaran 20 besar dunia, baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi. Pencapaian ini dinilai sebagai fondasi yang kokoh untuk melangkah ke level berikutnya.
Target jangka panjang lainnya adalah membawa pasar modal Indonesia masuk ke dalam 10 besar bursa dunia. Menurut Hasan, hal itu dapat diwujudkan jika berbagai upaya penguatan pasar dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi.
"Indonesia saat ini sudah berada pada posisi 20 besar dalam besaran kapitalisasi pasar dan nilai transaksi. Dengan menjaga pertumbuhan perusahaan tercatat, peningkatan pendalaman pasar, dan perbaikan transparansi serta tata kelola maka target-target tersebut diharapkan dapat dicapai," jelasnya.