Bloomberg Technoz, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja merampungkan evaluasi rutin terhadap anggota indeks LQ45. Dua emiten besar, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), resmi terdepak dari deretan saham unggulan tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kedua saham itu digantikan oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Perubahan komposisi ini akan berlaku efektif mulai Agustus 2026 hingga periode Oktober 2026 mendatang, sesuai jadwal rotasi indeks yang dilakukan BEI setiap tiga bulan sekali.
Keputusan BEI mencoret SMGR dan TOWR sempat mengejutkan pelaku pasar. Pasalnya, dari sisi fundamental, kedua emiten dinilai masih cukup solid. Berdasarkan data Bloomberg, SMGR tercatat memiliki rasio free float lebih dari 49%, sementara TOWR mencatatkan rasio free float sebesar 32,55%.
Di tengah kabar kurang menggembirakan itu, prospek harga saham SMGR justru terbilang cerah. Konsensus dari 24 analis yang dihimpun Bloomberg menunjukkan tren bullish, dengan target harga SMGR berada di angka Rp2.435 per saham dalam 12 bulan ke depan. Angka itu merepresentasikan potensi keuntungan lebih dari 66% dari level harga saat ini.
Sebanyak 11 analis secara kompak masih memberikan rekomendasi beli atau buy untuk saham SMGR. Sementara sisanya memilih rekomendasi tahan (hold) dan jual (sell), menunjukkan bahwa sentimen terhadap emiten pelat merah ini masih terbagi namun cenderung positif.
Untuk saham TOWR, meski tidak disebutkan secara rinci dalam data konsensus, para pelaku pasar menilai emiten infrastruktur telekomunikasi ini masih memiliki prospek bisnis jangka panjang yang baik, terutama seiring dengan meningkatnya kebutuhan menara telekomunikasi di era digital.
Analis menilai, keputusan keluar dari LQ45 tidak serta-merta mencerminkan buruknya kinerja emiten. Faktor likuiditas dan kapitalisasi pasar selama periode evaluasi menjadi penentu utama. Investor disarankan tetap mencermati kinerja fundamental dan rencana bisnis emiten ke depan, bukan hanya berdasarkan pergerakan indeks.