Dunia investasi domestik kembali dikejutkan oleh dinamika pasar keuangan global. Tren pemulihan atau rebound yang sempat dinikmati oleh Surat Utang Negara tidak bertahan lama dan harus rela memudar di tengah perdagangan siang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pantauan data pasar pada Kamis, pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah menunjukkan tren kenaikan pada mayoritas tenor yang diperdagangkan, menandakan tekanan jual masih membayangi pasar.
Catatan penting terlihat pada yield tenor acuan 10 tahun yang merangkak naik tipis 0,5 basis poin ke level 7,33%. Kondisi serupa juga dialami oleh tenor jangka pendek seperti 2 tahun yang naik 1,2 basis poin menjadi 7,02%, serta tenor 3 tahun dan 6 tahun yang turut mengekor kenaikan.
Lonjakan imbal hasil paling mencolok justru terjadi pada tenor 13 tahun yang bertambah cukup signifikan hingga 14 basis poin dan menyentuh posisi 7,44%. Meskipun demikian, secercah aksi beli masih tampak pada beberapa tenor tertentu seperti 5 tahun dan 11 tahun yang mengalami penurunan imbal hasil tipis.
Pelaku pasar menilai pergerakan kurva yang relatif datar ini mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga acuan masih akan bertahan di level tinggi dalam waktu yang lebih lama. Faktor eksternal dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, turut menjadi katalis utama perubahan arah angin di pasar keuangan lokal.
Meskipun The Fed secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen, pernyataan dari Gubernur Kevin Warsh justru ditangkap oleh para investor sebagai sinyal yang cenderung ketat atau hawkish.
Respon pasar yang meredup ini menegaskan bahwa strategi higher for longer masih menjadi bayang-bayang utama bagi para pemburu aset pendapatan tetap, membuat ruang gerak surat utang domestik menjadi lebih terbatas dalam jangka pendek.