Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI tidak hanya membawa kemudahan bagi kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghadirkan ancaman baru yang mengintai keamanan finansial masyarakat. Modus kejahatan kini semakin canggih dan personal, memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menipu korban dalam waktu singkat tanpa disadari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Salah satu modus yang kian meresahkan adalah penggunaan teknik tiruan suara atau voice cloning dan deepfake untuk memalsukan identitas seseorang. Pelaku kejahatan dapat menirukan suara anak atau kerabat dekat korban yang sedang panik meminta uang, membuat siapa saja mudah terkecoh karena kemiripannya dengan kenyataan.
Maraknya kejahatan siber ini terjadi seiring lonjakan transaksi keuangan digital di Tanah Air yang tumbuh secara masif dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kemudahan pembayaran seperti mobile banking, dompet digital, hingga QRIS kini telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi jutaan masyarakat Indonesia.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, ribuan laporan penipuan berbasis AI tercatat memakan banyak korban dari berbagai kalangan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem keamanan konvensional dan literasi digital masyarakat masih menghadapi tantangan besar dalam membendung evolusi kejahatan siber modern.
Pemerintah bersama otoritas terkait terus berupaya memperketat pengawasan serta memperkuat infrastruktur pelindung data untuk mengantisipasi kerugian yang lebih besar. Masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah percaya pada panggilan atau pesan mencurigakan yang mengatasnamakan keluarga.