Pernyataan mengejutkan kembali dilontarkan oleh Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam konferensi pers terbarunya di Washington. Bank sentral Amerika Serikat tersebut mengindikasikan potensi perubahan pendekatan dalam mengukur laju inflasi yang langsung memicu kecemasan di kalangan investor.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Selama ini, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE menjadi acuan utama yang diandalkan oleh para pengambil kebijakan di The Fed. Namun, Warsh mengisyaratkan bahwa dirinya akan melihat kumpulan data inflasi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar indikator konvensional tersebut.
"Kami akan mendatangkan inflasi 2 persen dan tidak lebih sedikitpun, namun untuk mencapainya, saya melihat rangkaian data inflasi yang lebih luas ketimbang PCE," ungkap Warsh di hadapan para awak media.
Langkah tersebut langsung ditanggapi serius oleh para ekonom Wall Street. Michael Feroli selaku kepala ekonom AS di JPMorgan Chase menilai rencana pembentukan satuan tugas khusus dikhawatirkan hanya menjadi dalih untuk mendefinisikan ulang tantangan inflasi yang ada.
Kekhawatiran pasar terlihat nyata pada instrumen surat berharga negara AS. Tingkat breakeven 30 tahun yang mencerminkan ekspektasi inflasi pasar mengalami lonjakan signifikan menyusul komentar kontroversial dari bos baru bank sentral tersebut.
Mantan Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Jeffrey Lacker mengingatkan agar pimpinan The Fed berhati-hati dalam menentukan metrik baru. Menurutnya, hanya ada dua indeks utama yang terbukti handal dan berbasis luas di pasar, yakni indeks PCE dan indeks harga konsumen atau CPI.
Di sisi lain, sejumlah analis dari institusi keuangan besar memprediksi bahwa langkah Warsh mungkin bertujuan menunjukkan tren kenaikan harga yang lebih melunak. Kendati demikian, ketidakpastian ini tetap mendongkrak premi risiko dan imbal hasil obligasi jangka panjang di pasar keuangan global.