Raksasa teknologi asal Cupertino, California, Apple, kembali mencatatkan laporan keuangan kuartal ketiga yang melampaui estimasi para analis di Wall Street. Lonjakan penjualan lini produk iPhone menjadi motor utama yang mendongkrak pendapatan serta laba bersih perusahaan pada periode tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kendati berhasil meraup hasil positif secara keseluruhan, pasar rupanya menunjukkan respons yang berbeda. Saham Apple justru tercatat mengalami koreksi lebih dari 3 persen setelah pengumuman laporan keuangan dirilis ke publik menyusul performa sektor layanan dan pasar Tiongkok yang dianggap belum memenuhi target.
Berdasarkan laporan resmi perusahaan, Apple membukukan laba per saham atau EPS sebesar USD 2,02 dengan total pendapatan mencapai USD 109,4 miliar. Angka tersebut sukses mengalahkan estimasi konsensus analis yang sebelumnya memproyeksikan EPS di angka USD 1,89 serta pendapatan senilai USD 108,8 miliar.
Kinerja ciamik ini ditopang kuat oleh angka penjualan iPhone yang menembus USD 54,2 miliar, melampaui ekspektasi pasar di kisaran USD 53,5 miliar. Perolehan tersebut juga melonjak signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang membukukan angka USD 44,5 miliar.
Namun, bayang-bayang kekhawatiran menyelimuti lini bisnis lainnya seperti sektor Services yang hanya mendatangkan pendapatan sebesar USD 30,7 miliar dari proyeksi USD 31,3 miliar. Selain itu, pendapatan dari kawasan Greater China tercatat di angka USD 18,8 miliar atau berada di bawah estimasi analis yang mematok angka USD 19,5 miliar.
Di tengah persaingan industri teknologi global, Apple juga tengah berhadapan dengan tantangan kenaikan biaya memori dan penyimpanan akibat masifnya ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk menaikkan harga jual pada perangkat Mac dan iPad.
Analis dari Jefferies, Edison Lee, memperingatkan bahwa lonjakan harga komponen memori berpotensi menekan margin keuntungan kotor iPhone di masa mendatang. "Kami mengestimasi biaya memori akan terus merangkak naik pada paruh kedua tahun 2026 dan berpotensi memangkas margin kotor keseluruhan iPhone," ungkap Lee dalam catatan investornya.
Pandangan senada disampaikan oleh Brandon Nispel dari KeyBank Capital Markets yang menilai bahwa rencana kenaikan harga iPhone dapat menjadi persoalan pelik bagi pertumbuhan jangka panjang Apple. "Ketika Apple menaikkan harga iPhone, pertumbuhan unit akan melambat, dan ketika pertumbuhan unit melambat, pertumbuhan basis pengguna pun ikut melambat yang pada akhirnya berdampak pada layanan," tulis Nispel.
Sebagai langkah antisipasi, Apple baru saja memperkenalkan layanan Apple Upgrade baru yang memungkinkan pelanggan untuk menyewa berbagai perangkat mulai dari iPhone hingga Mac guna mendongkrak minat konsumen. Seluruh tantangan strategis ini nantinya akan menjadi pekerjaan rumah bagi CEO baru Apple, John Ternus, yang resmi menggantikan Tim Cook mulai 1 September mendatang.