Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Mengenal Trenggiling, Satwa Kritis...
BERITA

Mengenal Trenggiling, Satwa Kritis yang Nyaris Punah Akibat Mitos

By Redaksi Kabayan News • 3 min read • 31 Juli 2026
Ilustrasi trenggiling mamalia bersisik yang terancam punah akibat perburuan liar

Ilustrasi trenggiling mamalia bersisik yang terancam punah akibat perburuan liar

Trenggiling atau Manis javanica dikenal sebagai salah satu mamalia paling unik sekaligus paling terancam di dunia. Di berbagai wilayah Indonesia termasuk Kalimantan, perburuan liar terhadap satwa ini terus masif terjadi. Akibatnya, International Union for Conservation of Nature mencatat status konservasinya kini masuk dalam kategori kritis atau critically endangered.

Pemicu utama perburuan trenggiling adalah kepercayaan turun-temurun mengenai khasiat medis dari bagian tubuhnya. Di beberapa negara Asia, sisik trenggiling dipercaya bisa mengobati penyakit kulit, sementara dagingnya dianggap sebagai makanan berkhasiat tinggi. Padahal, berbagai penelitian ilmiah telah mematahkan seluruh klaim keliru tersebut.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menjelaskan bahwa sisik trenggiling murni tersusun dari keratin, yakni protein yang juga menyusun kuku serta rambut manusia. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa daging trenggiling tidak memiliki kandungan gizi yang lebih istimewa dibandingkan daging ayam, dan klaim pengobatan menggunakan darahnya hanyalah isapan jempol belaka.

Di balik ancaman kepunahannya, trenggiling sebenarnya memegang peranan krusial sebagai penjaga keseimbangan ekosistem hutan. Seekor trenggiling sanggup memakan hingga 200.000 ekor serangga per hari atau sekitar 70 juta serangga per tahun. Aktivitas ini secara efektif mengendalikan populasi rayap dan semut agar tidak merusak pepohonan.

Selain sebagai pengendali hama alami, mamalia unik ini juga bertindak sebagai arsitek tanah yang menyuburkan lingkungan sekitarnya. Cakar kuat yang mereka gunakan untuk mencari makan mampu membantu sirkulasi oksigen dan nutrisi tanah. Sayangnya, mekanisme pertahanan alami mereka dengan cara menggulung diri justru membuat satwa ini semakin mudah ditangkap oleh para pemburu.

Dari sisi reproduksi, trenggiling memiliki tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat karena umumnya hanya melahirkan satu anak dalam setahun. Kondisi ini membuat kecepatan pemulihan populasinya di alam liar sangat tertinggal jauh dibandingkan laju eksploitasi manusia. Apabila rantai perburuan ini tidak segera dihentikan, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya bisa mengenalnya lewat cerita.

Di Indonesia, perlindungan terhadap satwa ini telah diatur secara ketat melalui undang-undang yang melarang segala bentuk perburuan, kepemilikan, maupun perdagangan ilegal. Penegakan hukum yang tegas serta kesadaran masyarakat untuk menghentikan konsumsi produk ilegal menjadi kunci utama agar trenggiling tidak benar-benar punah dari muka bumi.

Topics
trenggiling konservasi satwa dilindungi lingkungan brin kalimantan biodiversitas
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.