Layanan cloud gaming besutan Google yakni Stadia telah resmi ditutup sejak beberapa tahun lalu. Kendati demikian, platform ini meninggalkan kesan mendalam sebagai salah satu pengalaman bermain game paling menyenangkan bagi para penggunanya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kehadiran Stadia pada masanya terasa seperti sebuah sihir. Pengguna dapat memainkan game kelas atas di hampir semua perangkat hanya berbekal koneksi internet yang stabil tanpa memerlukan spesifikasi perangkat keras yang tinggi.
Bagi sebagian kalangan, bermain game di berbagai tempat seperti kamar hotel, ruang tamu, hingga perangkat tablet menjadi kemudahan tersendiri yang sulit ditemukan pada konsol konvensional. Teknologi streaming tanpa jeda ini sempat dianggap sebagai masa depan industri game.
Kendati menawarkan teknologi yang memukau, peluncuran awal Stadia di ajang GDC 2019 dinilai kurang optimal akibat promosi berlebihan serta minimnya kejelasan informasi harga. Selain itu, keterbatasan pustaka game serta minimnya minat pengembang turut menjadi batu sandungan besar.
Perkembangan industri teknologi saat ini memperlihatkan bagaimana infrastruktur server dan pusat data lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan kecerdasan buatan atau AI. Jika saja Stadia masih bertahan, platform tersebut diprediksi akan tergilas oleh gelombang kebutuhan AI yang masif.
Terlepas dari segala kekurangan dan akhir perjalanannya, Google dinilai sukses menepati janji dengan mengembalikan seluruh dana pembelian perangkat keras dan perangkat lunak kepada konsumen. Pengguna pun tetap menyimpan kenangan manis atas teknologi streaming game yang pernah mendahului zamannya.