Sektor penerbangan Israel kini tengah menghadapi tekanan kapasitas yang semakin menggunung di tengah krisis multidimensi. Berdasarkan laporan Daily Sabah, kekurangan staf, gelombang protes buruh, serta konflik regional yang berkepanjangan telah membuat perjalanan udara internasional gagal kembali normal.
Kerentanan sistem penerbangan ini terlihat secara nyata ketika aksi mogok liar secara mendadak menghentikan operasional di Ben Gurion Airport di dekat Tel Aviv selama beberapa jam. Peristiwa tersebut terjadi pada salah satu hari dengan lonjakan perjalanan paling sibuk dalam setahun.
Para pegawai menghentikan aktivitas kerja mereka sebagai bentuk protes atas kekurangan tenaga kerja serta beban kerja yang sangat berat. Tindakan ini memicu penutupan konter pelaporan atau check-in serta penangguhan prosedur kedatangan bagi para penumpang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAkibat aksi protes tersebut, sejumlah besar penerbangan mengalami penundaan hingga pembatalan. Ribuan penumpang pun terpaksa terlantar dan memicu antrean panjang yang mengular di dalam area terminal bandara.
Pihak serikat pekerja sempat membantah telah mendeklarasikan aksi mogok secara formal. Di sisi lain, manajemen bandara justru menyalahkan aksi tenaga kerja tersebut sebagai pemicu utama lumpuhnya operasional harian.
Setelah melalui proses negosiasi yang intensif antara perwakilan serikat pekerja dan pejabat Israel Airports Authority, para pegawai akhirnya kembali bekerja dan penerbangan berangsur-angsur pulih. Otoritas bandara menyatakan pihaknya akan berupaya keras meningkatkan jumlah staf guna memenuhi tuntutan operasional.
Kendati demikian, otoritas memperingatkan bahwa proses untuk mengurai antrean panjang serta tumpukan jadwal akibat penghentian operasional selama beberapa jam tersebut akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Respons keras datang dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang secara tegas mendesak agar para pegawai yang dianggap bertanggung jawab atas kekacauan operasional bandara segera dipecat. "Siapa pun yang menghambat operasional bandara akan dipulangkan," ujar Netanyahu sebagaimana dilaporkan oleh media-media Israel.
Menteri Transportasi Miri Regev turut melontarkan ancaman tindakan hukuman berat. Menurutnya, pihak-pihak yang memimpin gangguan operasional tersebut harus "membayar harga yang mahal" atas tindakan yang mereka lakukan.
Konfrontasi terbuka ini menyoroti ketegangan yang kian membara antara pemerintah dan para pegawai bandara. Para pekerja menilai tingkat staf saat ini sudah sangat tidak memadai untuk menangani beban kerja yang membludak akibat musim liburan musim panas.
Mengutip data dari harian bisnis Israel, Globes, sekitar 2,6 juta penumpang diperkirakan akan melintasi Ben Gurion Airport sepanjang bulan Agustus. Lalu lintas harian diproyeksikan mencapai kisaran 90.000 hingga 95.000 penumpang pada hari kerja, bahkan menembus angka 100.000 pada hari-hari tertentu.
Bandara tersebut juga menghadapi tekanan operasional tambahan dari kehadiran pesawat militer Amerika Serikat. Otoritas bandara sempat memperingatkan bahwa keberadaan pesawat tanker Angkatan Udara AS yang ditempatkan di Ben Gurion dapat memicu potensi keterlambatan penerbangan di puncak musim liburan.
Jaringan penerbangan internasional Israel sendiri diketahui belum pulih sepenuhnya dari serangkaian penangguhan akibat perang yang dimulai Israel bersama AS terhadap Iran sejak akhir Februari lalu. Sejumlah maskapai asing terpaksa menghentikan layanan ke Tel Aviv dan membebani maskapai lokal untuk menanggung lonjakan permintaan.
Absennya banyak maskapai asing terbukti membatasi kompetisi pasar serta memicu lonjakan harga tiket yang tinggi, khususnya pada rute-rute jarak jauh. Berdasarkan data industri perjalanan Israel, tiket kelas ekonomi pulang-pergi untuk periode liburan September dibanderol mulai USD 1.460 hingga melampaui USD 3.000.
Sementara itu, tarif untuk kelas bisnis dilaporkan berkisar antara kurang lebih USD 5.700 hingga mendekati angka USD 10.000, menunjukkan betapa mahalnya biaya penerbangan di tengah krisis yang melanda aviasi Israel.