Penerapan teknologi kecerdasan buatan atau AI kini mendominasi diskusi di berbagai ruang rapat perusahaan global. Namun, banyak organisasi yang mulai menyadari adanya hambatan mendasar, yakni infrastruktur teknologi mereka belum sepenuhnya siap untuk mendukung adopsi AI secara masif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan terbaru dari Tata Communications dan Bloomberg Media Studios, sekitar 77 persen pemimpin perusahaan global menganggap AI sebagai prioritas utama. Kendati demikian, hanya 29 persen di antaranya yang menyatakan bahwa infrastruktur mereka sudah siap menopang penggunaan AI dalam skala besar.
Amitabh Sarkar selaku Vice President and Head of Asia Pacific and Japan Enterprise di Tata Communications mengungkapkan bahwa temuan tersebut menunjukkan adanya jurang pemisah yang kian melebar antara ambisi korporasi dan tingkat kesiapan di lapangan. "Infrastruktur tidak lagi sekadar urusan belakang layar, melainkan sudah menjadi agenda utama seorang CEO," ujarnya.
Menurutnya, tantangan utama bukanlah pada kurangnya ambisi dalam memanfaatkan AI, melainkan kompleksitas lingkungan teknologi yang harus dihadapi. Selama bertahun-tahun, perusahaan kerap menambah platform cloud, aplikasi perangkat lunak, perangkat keamanan siber, serta sistem data demi menyelesaikan berbagai kebutuhan operasional mereka secara terpisah.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Tata Communications memperkenalkan solusi yang disebut Digital Fabric guna menghubungkan berbagai jaringan, lingkungan cloud, dan sistem keamanan secara terpadu. Langkah ini krusial agar perusahaan dari berbagai sektor dapat mengoptimalkan kinerja AI tanpa harus menghadapi kendala operasional yang pelik.