Praktik penipuan aplikasi sewa rumah di Inggris kian meresahkan dengan potensi kerugian mencapai £4,1 miliar atau setara Rp83 triliun setiap tahunnya. Berdasarkan data dari platform penyewaan Goodlord, terdapat 41 dari 1.000 aplikasi sewa yang terindikasi sebagai upaya penipuan selama periode Juli 2025 hingga Juni 2026.
Analisis terhadap lebih dari satu juta referensi penyewa menunjukkan pergeseran modus yang signifikan. Jika sebelumnya penipuan dilakukan dengan pemalsuan dokumen sederhana, kini pelaku menggunakan metode berlapis yang lebih canggih. Data mencatat lonjakan drastis pada pemalsuan referensi kerja sebesar 226,6 persen, kecurangan referensi (146,4 persen), dan manipulasi identitas (140,4 persen).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Landlord tidak beroperasi di pasar terisolasi. Saat ketersediaan rumah subsidi mengetat, tekanan berpindah ke sektor sewa swasta melalui peningkatan permintaan dan daftar tunggu yang lebih panjang," tulis tim editor Landlord Knowledge dalam laporannya.
Goodlord memperkirakan rata-rata kerugian langsung yang dialami pemilik properti dari satu kasus penyewa nakal mencapai £9.601 atau sekitar Rp195 juta. Angka tersebut mencakup akumulasi tunggakan sewa, biaya hukum, ongkos juru sita, hingga kerusakan properti. Di pasar yang mengharuskan proses pengosongan unit secara legal berjalan lambat, satu kesalahan verifikasi bisa menjadi beban operasional yang fatal.
Temuan ini sekaligus mematahkan asumsi bahwa penipuan hanya menyasar properti kelas bawah dengan harga terjangkau. Properti premium dengan nilai sewa di atas £10.000 per bulan justru mencatatkan tingkat penipuan terkonfirmasi jauh di atas rata-rata pasar. London, West Midlands, dan North West menjadi wilayah dengan tingkat deteksi penipuan tertinggi di Inggris.
Para ahli menyarankan pemilik properti agar tidak lagi mengandalkan pengecekan visual manual pada slip gaji atau rekening koran. Pengecekan berbasis teknologi, seperti verifikasi identitas otomatis dan pemindaian sanksi, kini menjadi kebutuhan mendesak. Kedisiplinan dalam proses seleksi penyewa menjadi benteng utama agar pemilik tidak terjebak dalam masalah hukum yang sulit diselesaikan.