Bloomberg Technoz, Jakarta - Industri smartphone global kembali menghadapi angin segar yang berubah menjadi badai di kuartal II-2026. Pengiriman ponsel dunia tercatat melemah di tengah lonjakan biaya komponen yang membebani hampir seluruh lini produksi, terutama segmen menengah dan entry-level.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data riset dari Omdia, total pengiriman smartphone global menyentuh angka 272 juta unit selama periode April hingga Juni 2026. Jumlah itu turun sekitar 6% dibandingkan kuartal II tahun lalu, menjadi sinyal bahwa pemulihan pasar pascapandemi masih belum merata dan rapuh.
Pelemahan tersebut utamanya dipicu oleh krisis harga komponen memori yang melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga ini memukul produsen ponsel di kelas menengah dan entry-level yang mengandalkan margin tipis, sehingga mereka terpaksa mengurangi produksi atau menaikkan harga jual di tengah daya beli konsumen yang belum pulih sepenuhnya.
Namun di sisi lain, dua pemain premium yakni Samsung dan Apple justru menikmati momen sebaliknya. Kedua raksasa teknologi itu mencatat pertumbuhan pengiriman yang signifikan sekaligus berhasil memperbesar pangsa pasar mereka di tengah kontraksi industri secara keseluruhan.
Samsung berhasil mempertahankan mahkota sebagai vendor smartphone terbesar di dunia. Perusahaan asal Korea Selatan itu mencatat pengiriman sebanyak 60,5 juta unit pada kuartal II-2026, menguasai 22% pangsa pasar global. Angka ini naik dari 20% pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan volume pengiriman tumbuh 5% secara tahunan.
Apple, di sisi lain, mencatatkan pertumbuhan yang lebih impresif di antara lima besar vendor global. Pengiriman iPhone mencapai 55,1 juta unit, melonjak 23% dibandingkan kuartal II-2025. Pangsa pasar Apple ikut terdongkrak dari 16% menjadi 20%, menjadi pencapaian kuartal kedua tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Sementara itu, nasib berbeda dialami oleh mayoritas brand Android asal China. Berdasarkan data Omdia, sebagian besar vendor dari Negeri Tirai Bambu tersebut mencatat penurunan pengiriman hingga dua digit. Tekanan dari kenaikan biaya komponen dan persaingan ketat di segmen harga terjangkau menjadi faktor utama merosotnya kinerja mereka.
Analis teknologi dari Counterpoint Research, Tarun Pathak, mengatakan bahwa strategi premiumisasi Samsung dan Apple berhasil melindungi mereka dari guncangan harga komponen. Menurutnya, konsumen kelas atas cenderung kurang sensitif terhadap perubahan harga, sehingga permintaan terhadap produk flagship tetap kuat. Ini adalah bukti bahwa loyalitas merek dan ekosistem menjadi benteng di masa sulit, ujarnya.
Ke depan, para pengamat memproyeksikan bahwa tekanan di pasar komponen masih akan berlanjut hingga akhir tahun. Namun, peluncuran model baru dari Samsung dan Apple pada paruh kedua tahun ini, termasuk seri Galaxy Z Fold dan iPhone generasi terbaru, diperkirakan bakal menjaga momentum pertumbuhan mereka.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Omdia belum memberikan komentar tambahan terkait proyeksi pasar smartphone untuk sisa tahun 2026. Namun, tren pemisahan antara vendor premium dan non-premium diprediksi akan semakin tajam seiring dengan berlanjutnya ketidakpastian pasokan komponen global.