Nilai tukar rupiah melemah 34 poin terhadap dolar AS dan ditutup pada level Rp 17.897 per dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz.
Mata uang Garuda mengalami depresiasi dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp 17.863 per dolar AS seiring kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDirektur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah bersumber dari ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Ketegangan baru di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran atas potensi lonjakan harga minyak mentah, mendorong pasar mengantisipasi tekanan inflasi yang dapat membuat The Federal Reserve menaikkan suku bunga," ujarnya.
Media Iran melaporkan bahwa Teheran telah menyerang target musuh di Selat Hormuz serta berencana melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Berdasarkan analisis awak media Kabayan News, eskalasi ini terjadi justru ketika pejabat Iran sebelumnya menyebutkan bahwa kesepakatan pembukaan kembali jalur pelayaran dengan Oman hampir rampung.
Pasar keuangan kini memperkirakan probabilitas sebesar 60 persen untuk kenaikan suku bunga acuan pada September mendatang menyusul laporan mengenai sikap bank sentral Amerika Serikat.
Kondisi domestik menunjukkan cadangan devisa Indonesia tetap berada pada posisi stabil di angka USD 145,3 miliar pada akhir Juli meskipun rupiah tertekan faktor eksternal.