Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Militer Amerika Serikat mengklaim berhasil mencegat serangan rudal yang diluncurkan oleh Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan tersebut pada Selasa (28/7).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Komando Sentral AS (Centcom) menyatakan bahwa rudal balistik tersebut ditembakkan oleh Korps Garda Revolusi Islam. "Seluruh rudal Iran berhasil dicegat. Pasukan AS tetap waspada dan berada dalam tingkat kesiapan tinggi," demikian pernyataan resmi Centcom.
Serangan ini menjadi yang pertama dalam beberapa hari terakhir, setelah sebelumnya sempat terjadi jeda ketegangan antara AS dan Iran. Situasi ini langsung memicu gejolak di pasar komoditas, dengan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 5% menembus level US$83 per barel.
Lonjakan harga minyak ini sekaligus menahan sebagian penurunan signifikan yang terjadi pada hari yang sama. Pasar saham AS pun ikut melemah menyusul pengumuman serangan tersebut, mencerminkan kekhawatiran investor akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Insiden ini terjadi di tengah upaya Presiden AS Donald Trump yang disebut-sebut sedang membangun landasan untuk jalur diplomasi dengan Iran. Namun, serangan rudal ini menunjukkan bahwa ketegangan di lapangan masih sangat tinggi dan sulit dikendalikan, meskipun ada sinyal diplomatik dari kedua belah pihak.