Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Kartu Trump Netanyahu, Mulai...
INTERNASIONAL

Kartu Trump Netanyahu, Mulai Kehilangan Pengaruh di Israel

By Redaksi Kabayan News • 3 min read • 29 Juli 2026
PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Washington untuk bahas hubungan bilateral dan perang Iran

PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Washington untuk bahas hubungan bilateral dan perang Iran

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu selama ini dikenal sebagai pemimpin yang sangat dekat dengan Amerika Serikat, baik secara politik maupun personal. Kedekatan itu kerap ia gunakan sebagai bukti bahwa dirinya adalah sosok yang tak tergantikan bagi Israel. Namun, belakangan ini, kartu AS yang selama ini menjadi andalan Netanyahu mulai kehilangan taringnya.

Netanyahu, yang tumbuh besar di AS dan fasih berlogat Amerika, dikenal lihai memanfaatkan pemahamannya tentang politik Negeri Paman Sam untuk membujuk sejumlah presiden AS agar tetap mendukung penuh Israel. Tak terkecuali Donald Trump, yang bahkan menjadi presiden AS pertama yang setuju terlibat dalam perang gabungan melawan Iran bersama Israel.

Namun, seiring perang yang mulai mandek dan Trump yang tampak lebih terbuka membuat kesepakatan di Timur Tengah tanpa masukan dari Israel, suasana berubah. Kritik terhadap Israel di AS pun kian menguat. Di tengah situasi itu, banyak pihak di Israel menilai kartu Trump yang selama ini dipegang Netanyahu tak lagi seampuh dulu.

Kondisi ini datang di saat yang buruk bagi Netanyahu. Ia menghadapi pemilu akhir Oktober mendatang, masih bergelut dengan kasus korupsi yang menjeratnya, dan sejumlah konflik regional yang belum usai. Kunjungan Netanyahu ke Washington pada Selasa (28/7) untuk bertemu Trump pun menjadi momen krusial, sekaligus ajang pamer hubungan keduanya kepada publik Israel.

Ketegangan hubungan Netanyahu-Trump sebenarnya sudah mulai terlihat sejak perang Iran dimulai. Saat itu muncul laporan bahwa perdana menteri Israel-lah yang meyakinkan presiden AS tentang kelayakan misi perang dan potensi penggulingan rezim Iran. Kekhawatiran juga tumbuh di Kongres AS atas sikap Netanyahu yang dinilai terlalu mengakomodasi gerakan pemukim Israel yang kian brutal, termasuk insiden penahanan seorang senator AS oleh para pemukim.

Gesekan lain muncul terkait keputusan Washington yang mempertimbangkan penjualan jet tempur F-35 ke Turkiye, saingan regional Israel, serta kesepakatan kerja sama nuklir dengan Arab Saudi. "Alasan sebenarnya kunjungan Netanyahu ke Washington murni sinis," ujar Alon Pinkas, mantan duta besar Israel di New York, kepada Al Jazeera. "Ia mengaku terbang ke AS untuk menghadiri pemakaman teman besarnya, tapi ini soal dua hal: meyakinkan sekutu dan kritikus di Israel bahwa hubungan dengan Trump masih kuat, dan berharap Trump kembali menyerukan pengampunan dalam kasus korupsinya."

Namun, Netanyahu tiba di AS ketika pamornya di sana sedang terpuruk. Tokoh-tokoh sayap kanan AS seperti podcast host Tucker Carlson dan mantan anggota DPR Marjorie Taylor Greene melontarkan kritik tajam. Bahkan Wakil Presiden JD Vance mengkritik "sebagian" pihak Israel yang dianggap mencoba menggagalkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang ia mediasi.

Para analis menilai pertemuan Trump-Netanyahu kali ini akan dibumbui sanjungan publik namun disertai sinisme pribadi dari presiden AS. Trump pun dengan tegas menolak intervensi Netanyahu terkait penjualan F-35 ke Turkiye. "Tidak ada yang memberi tahu saya apa yang harus kami jual," kata Trump di Air Force One, Senin (27/7).

"Netanyahu dianggap di AS, benar atau salah, sebagai sosok yang menyeret Trump ke dalam perang pilihan yang berubah menjadi bencana strategis," ujar Ahron Bregman, analis keamanan Israel dari King's College London. "Tidak ada yang akan membiarkannya berpura-pura menjadi orang paling pintar di ruangan itu. Hari-hari itu sudah berlalu."

Meski tak ada yang mengharapkan pertikaian terbuka dalam kunjungan ini, kemampuan Netanyahu untuk menjual dirinya sebagai satu-satunya pemimpin yang mampu mengelola hubungan dengan AS jelas terbatas. "Netanyahu punya rekam jejak luar biasa dengan AS, tapi dia telah membakar banyak jembatan," kata Mitchell Barak, jajak pendapat Israel dan mantan staf Netanyahu. "Bisa saja Trump menyatakan Netanyahu adalah pemimpin perang yang hebat, tapi sudah waktunya Israel move on, sebelum bertemu dengan politisi lain dan mendukung perdana menteri baru untuk Israel."

Topics
netanyahu trump hubungan as-israel perang iran pemilu israel korupsi netanyahu f-35 turkiye kebijakan luar negeri timur tengah
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.