Sebagaimana diwartakan oleh CNN, Pemerintah Amerika Serikat kembali membuka sebagian perbatasan selatannya untuk lalu lintas perdagangan sapi asal Meksiko. Kebijakan ini langsung memicu perdebatan panjang di tengah industri agrikultur negeri Paman Sam.
Pembatasan perdagangan hewan ternak sebelumnya sempat diterapkan secara berkala sejak akhir tahun 2024 akibat ancaman parasit lalat pemakan daging atau yang dikenal sebagai gusano barrenador. Meski demikian, rencana pembukaan kembali pos perbatasan di Douglas, Arizona, untuk komoditas sapi dari Sonora, Meksiko, tetap berjalan.
Di satu sisi, para pelaku usaha di Meksiko menyambut baik langkah tersebut setelah mengalami kerugian finansial yang signifikan selama penutupan perbatasan. Sebagaimana disampaikan oleh Álvaro Bustillos, seorang pemimpin serikat peternak di Chihuahua, penghentian perdagangan sebelumnya telah merusak dinamika pasar dan memaksa banyak pihak melakukan efisiensi besar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNamun di sisi lain, sejumlah peternak independen di Amerika Serikat melayangkan kritik keras. Mereka khawatir masuknya pasokan dari luar negeri dapat menekan harga jual ternak domestik yang saat ini sedang berada di titik tertinggi, sekaligus membawa risiko kesehatan bagi hewan ternak lokal.
Menanggapi situasi ini, para ahli ekonomi agrikultur menilai bahwa kenaikan harga daging sapi dalam beberapa waktu terakhir lebih dipicu oleh menyusutnya populasi ternak nasional akibat faktor cuaca ekstrem, alih-alih sekadar persoalan lintas batas negara.