Perayaan Festival Raja di India biasanya menjadi momen suka cita bagi para petani untuk menyambut datangnya musim hujan serta kesuburan bumi. Namun, suasana berbeda dirasakan oleh warga di negara bagian Odisha karena mereka harus merayakan festival tersebut di bawah langit cerah tanpa tetesan air hujan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Keterlambatan musim muson tahun ini dipicu oleh kemunculan fenomena super El Nino yang diprediksi semakin menguat dari bulan Juli hingga September. Kondisi ini membawa kekhawatiran besar bagi sektor pertanian di India yang sangat bergantung pada curah hujan untuk mengairi lahan dan waduk.
Sejumlah petani di wilayah Laxmipur terpaksa menabur benih padi di atas tanah kering demi mengejar waktu tanam meski tanpa fasilitas irigasi yang memadai. Pengalaman pahit gagal panen pada tahun-tahun sebelumnya akibat kemarau panjang membuat mereka terlilit utang demi menyambung hidup.
Pakar pengelolaan air dari Council on Energy, Environment and Water menyatakan bahwa rendahnya kelembapan tanah akibat kurangnya hujan akan berdampak buruk pada cadangan air dan tanaman musim dingin. Sebanyak hampir separuh wilayah pertanian di Odisha memang sangat mengandalkan tadah hujan.
Menghadapi situasi pelik ini, para petani tidak tinggal diam dan mencoba beradaptasi dengan mencari pekerjaan serabutan hingga melakukan migrasi demi bertahan hidup. Upaya mitigasi seperti penyediaan informasi cuaca hiperlokal juga mulai digalakkan untuk membantu masyarakat menghadapi ketidakpastian iklim.
Meski bayang-bayang gagal panen dan ancaman inflasi membayangi akibat fenomena cuaca ekstrem ini, para petani di Odisha tetap memilih untuk melanjutkan aktivitas bercocok tanam. "Kami akan tetap menanam benih dan melihat apa yang akan terjadi," ujar salah satu petani lokal.