Fenomena cuaca El Nino yang memicu kenaikan suhu di atas rata-rata mulai membayangi wilayah Kabupaten Gowa. Kondisi ini berpotensi memperpanjang masa kemarau, meningkatkan risiko kekeringan, hingga memicu ancaman krisis air bersih bagi pemukiman warga.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menghadapi potensi kekeringan tersebut, Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Je'neberang (Perumda AMTJ) Kabupaten Gowa bergerak cepat mengambil langkah antisipasi demi menjamin kontinuitas distribusi pasokan air bersih kepada masyarakat pelanggan.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Je'neberang Gowa, Irianto Razak, menegaskan bahwa dampak El Nino di Kabupaten Gowa sejauh ini masih dalam batas aman dan terkendali.
"Khusus Kabupaten Gowa saat ini masih aman terkendali. Meskipun telah memasuki periode El Nino, kami terus melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi cuaca, khususnya di wilayah perbatasan Gowa-Takalar di Sungai Palleko, untuk memastikan suplai air baku tetap aman sebagai sumber air bersih," ujar Irianto saat dihubungi, Kamis (23/7/2026).
Ia membeberkan bahwa pengawasan ketat dipusatkan pada kawasan perbatasan karena wilayah selatan Gowa, seperti Kecamatan Bontonompo, Limbung, dan Bajeng, merupakan daerah yang paling rawan kesulitan air baku saat kemarau panjang.
Irianto menuturkan bahwa bercermin dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dampak fenomena iklim El Nino di Kabupaten Gowa tidak sampai mengganggu operasional pelayanan secara signifikan. Kendati begitu, pihaknya enggan lengah dan tetap menjaga kualitas produksi air.
"Kami akan bertanggung jawab penuh menjaga produksi air agar tetap sehat untuk dikonsumsi. Kami juga berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu panjang sehingga kondisi air baku tetap stabil, tidak terganggu kekeringan, dan masyarakat, khususnya para petani, dapat terus beraktivitas dengan baik," pungkas Irianto.