Kawasan terasering sawah kuno Ifugao di desa Batad, Filipina, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, kini menghadapi ancaman serius akibat dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Bencana tanah longsor yang dipicu oleh Super Typhoon Fung-wong pada November tahun lalu telah menghancurkan saluran irigasi dan merusak sekitar 2,2 hektar lahan sawah, yang berdampak langsung pada kehidupan 150 petani lokal.
"Itu adalah yang terburuk yang pernah kami lihat di sini," ujar Apu Penneng, seorang tetua adat Ifugao yang juga pemilik lahan sawah luas di kawasan tersebut, sambil menunjuk ke arah tebing yang mengalami deforestasi.
Para ahli dan pegiat lingkungan memperingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kekeringan berkepanjangan, dan curah hujan lebat secara tiba-tiba memperparah kondisi tanah di terasering, membuatnya lebih rentan terhadap erosi dan keruntuhan.
Meskipun masyarakat setempat telah bergotong royong melakukan perbaikan secara swadaya melalui tradisi bachang, para pemimpin lokal dan aktivis menegaskan bahwa intervensi serta bantuan dari pemerintah nasional sangat dibutuhkan agar warisan budaya berharga ini tetap lestari.