Perundingan intensif antara Oman dan Iran terkait kesepakatan pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz menunjukkan perkembangan positif di tengah ketegangan geopolitik global. Berdasarkan pengamatan redaksi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pembicaraan telah berada pada tahap akhir meski pembukaan penuh jalur vital tersebut masih bergantung pada sejumlah syarat ketat.
Tehran sebelumnya melakukan blokade efektif di perairan strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak serta gas alam dunia sejak konflik dengan Amerika Serikat dan Israel memanas pada bulan Februari. Diskusi terbaru berfokus pada pembentukan rute baru di bawah pengelolaan bersama Oman dan Iran demi memulihkan arus lalu lintas maritim yang sempat lumpuh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun demikian, Araghchi menegaskan pemulihan penuh pelayaran masih memerlukan terpenuhinya beberapa kondisi termasuk kompensasi dari pihak Amerika Serikat atas pelanggaran kesepakatan sebelumnya. Kepala keamanan Iran Mohammad Baqer Zolqadr menambahkan bahwa pemerintah AS harus menghentikan ancaman serta mencabut blokade maritim sebelum jalur tersebut dapat kembali normal.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan potensi tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat meskipun Wakil Presiden JD Vance menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Washington menegaskan komitmen menggunakan berbagai instrumen diplomatik dan ekonomi untuk memastikan stabilitas pasokan energi global tetap terjaga.
Di tengah proses diplomasi yang berjalan, situasi keamanan di sekitar perairan tetap memanas menyusul laporan serangan terhadap kapal tanker milik perusahaan energi Uni Emirat Arab di dekat Selat Hormuz. Otoritas mar Inggris juga melaporkan insiden hantaman proyektil misterius yang memicu kebakaran kecil pada sebuah kapal di lepas pantai Oman tanpa menimbulkan korban jiwa.